Showing posts with label erotica. Show all posts
Showing posts with label erotica. Show all posts

Monday, February 24, 2014

Monster Erotica (Part 2) : The Night Gaunt, Bigfoot, Minotaur

Setelah pengalaman pertama yang 'lumayan' sukses dengan kisah erotis leprechaun, saya pun cukup pede untuk mengembangkan sayap membaca buku kedua dari serial ini. Saya bahkan sudah berkhayal bahwa kalo otak saya sanggup mengimajinasikan semua serial ini, saya bakal mencoba baca novel pararom. #horeee

Novela ini bermula dari Kim yang tersadar dari pingsannya. Dia gak tahu gimana dia bisa nyampe ke ruangan itu, dia juga gak tahu siapa yang udah menculik dia.

Lalu datang 3 wanita (Pam, Greta, Trena) menghampirinya. Ketiga wanita tersebut bercerita bahwa mereka berada di sebuah desa entah di mana. Desa ini dikuasai oleh Raja para Night Gaunt. Penduduk desa membuat perjanjian dengan sang raja bahwa mereka akan menyediakan satu gadis setiap hari Jumat untuk di-fuck (for the lack of better word) oleh sang raja. Satu syarat dari sang raja : gadis yang ditidurinya haruslah perawan dan tak boleh berhubungan dengan pria mana pun.

Pam, Greta dan Trena adalah sex slave sang raja, dan sekarang Kim pun termasuk di antaranya. Kim menggantikan gadis sebelumnya yang ketahuan berselingkuh kemudian dibunuh oleh raja Night Gaunt.

Lalu tibalah hari jumat malam itu...

Kim didandani, dipakein baju cakep bahkan dikasi cocktail berisi obat perangsang sebelum dibawa ke gua tempat sang raja meniduri para budaknya. Di gua itu, Kim digantung terbalik layaknya kelelawar karena Night Gaunt ini sejenis kelelawar raksasa dan mereka ngesexnya dengan posisi gelantungan terbalik (emang kelelawar beneran gelantungan ya kalo having sex? Gak pusingkah?)

Mungkin memang ada yang namanya chemistry, ato mungkin karena Kim memang cewek yang unik, yang pasti baik Kim mau pun sang raja sangat menikmati adegan celup-sambil-gelantungan-kebalik itu. Tiap malam Kim memimpikan sang raja dan terbangun dalam kondisi horny sementara sang raja merasa gelisah karena dia tak bisa melupakan Kim.

Jumat berikutnya adalah giliran Pam yang jadi persembahan. Melihat Pam ketakutan, raja Night Gaunt pun sadar bahwa Kim istimewa karena hanya dia lah wanita yang tak takut padanya. Lalu si Night Gaunt pun ngegorok leher Pam dan terbang.
Warga desa yang panik melihat Pam tewas jadi ketakutan akan amarah sang raja. Di malam berikutnya, mereka mengirim Greta sebagai persembahan (egois banget ya penduduk desa nya!). Kali ini, sang raja menjelaskan kepada Greta kalo dia cuma mau Kim dan gak mau cewek lain. Doh...kenapa dia gak ngomong dari kemarin ya? Kenapa juga kudu gorok leher Pam?

Anyway....esok malam penduduk desa mengirim Kim dan sejak itu penduduk desa dan para Night Gaunt hidup tenang dan bahagia.

Sebenernya dari segi cerita sih gak ada masalah ya. Lumayan bagus kok. Kalo udah baca buku yang Leprechaun di situ ada tokoh raja Night Gaunt yang sangat mencintai ratu-nya. Nah...Night Gaunt yang dimaksud adalah Night Gaunt yang ini dan ratunya jelas si Kim. Sayangnya...adegan sex dengan Night Gaunt itu gak masuk di otak saya (._.)

Sebelum saya lanjut, biar saya jelaskan dulu kalo saya tipe pembaca visual. Untuk bisa mengerti dan menikmati isi suatu buku (apapun itu), saya harus bisa membayangkan tiap adegan yang ada di buku tersebut.
Contohnya nih, semasa kuliah untuk bisa mengerti bagaimana proses sirkulasi darah, saya harus bisa membayangkan gimana struktur paru-paru, jantung, pembuluh darah, dan organ-organ lainnya. Setelah saya tahu letak para organ ini, saya harus bisa membayangkan gimana para organ itu bekerja sampe darah bisa mengalir ke seluruh tubuh. Kalo imaji ini gak terbentuk di otak saya, biar 100 kali pun saya baca itu teori sistem peredaran darah, saya gak bakal bisa ngerti maksudnya apa. Ribet? Emang iya sih. Yah....mau diapain lagi.

Jadi...untuk bisa menikmati buku ini, saya harus bisa membayangkan gimana si Kim itu bisa have sex dengan Night Gaunt. Dan saya gagal membentuk imaji apapun (_ _")
Coba aja....itu Night Gaunt dibilang kayak kelelawar gede, tak berwajah, berbicara lewat telepati, dan hobi nge-fuck sambil gelantungan kebalik. Heu? Saya susah nih ngebayangin gimana caranya.

But since I'm such a glutton for punishment, I read the next ebook from Ren.
Yang ini berjudul "Cum For Bigfoot", berkisah tentang Porsche (namanya beneran Porsche walo nasibnya sih beda jauh sama mobil sport itu) dan dua temannya yang sedang camping lalu diculik oleh serombongan Bigfoot (Yeti) dan dijadikan budak seks. Bahkan sampe akhir pun mereka tetap ditawan oleh para bigfoot itu.

Udah...cuma segitu doang yang mau saya ceritakan karena sumpah...saya gak kuat. Iya...saya tahu ada beberapa orang yang suka bestiality. Buat saya sih, itu urusan pribadi mereka ya. Selama gak nyenggol dan merugikan orang dan hewan lain, ya biarin aja lah. Tapi saya sendiri gak tahan dengan bestiality.
Swear...saya selalu menganggap diri terbuka pada keabsurdan macam apapun.Trisam, forsam? Ah biasa. Gangbang? Sini! #eh Caroline Diaz bercinta sama mobil?  Aneh sih tapi ya sudahlah ;)

Saya bahkan masih gak berkedip waktu baca cerita (oke...fanfic tepatnya) yang nyebut-nyebut angry dragon, lipton teabag, chili dog, carpet cleaner, the mu...Ebentar deh! INI KOK JADI KAYAK SEX SLANG 101??!!! O.o #LoYangMulaiWi #oiya ( ._.)
(ps : oya....gak usah kepo gugling yang saya sebut di atas yaa)

Balik ke topik...
Saya masih bisa kalem (walo geuleuh) baca itu semua. Tapi bestiality adalah batas saya. It disgusts me to the bone. It's in the same digusting level with pedophilia and necrophilia. Just...eugh! Dan gak peduli segahar apapun big foot, buat saya dia tetaplah sekeluarga dengan gorila. Jadi cerita ini termasuk bestiality. Enough said.

Terbukti saya emang gak gampang kapok :))
Setelah sukses mengatasi mual pasca baca bigfoot, saya melanjutkan baca ebook berikut dari seri The Horny Monster yaitu The Horny Minotaur, buah karya Nikita King.

Ceritanya tentang Sara yang diculik dan dibawa ke dimensi lain. Di dimensi ini para makhluk dongeng dikurung dalam sex dan dipaksa untuk berkembang biak. Sara ditugaskan untuk menjadi partner sex dari Warrick si minotaur.

Namun Warrick ini minotaur yang beda. Dia emoh meniduri Sara atau cewek mana pun. Dia gak mau keturunannya lahir dalam penjara untuk kemudian diperbudak. Dan setelah sekian lama (oke...sebenernya gak segitu lamanya juga) gantian Sara yang gregetan karena dicuekkin sama Warrick. Sekarang...justru dia yang berusaha menggoda Warrick supaya si minotaur mau having sex sama dia :)).

Dari 4 cerita yang sudah dibaca, ini yang paling mending sih. Warrick is such a sweet heart, beda dengan Collin si leprechaun yang rapist itu, juga Night Gaunt yang hobinya gorok leher orang, dan jelas jauh banget dibanding si Bigfoot.  Dan cerita ini punya plot yang bagus karena setelah Warrick sadar kalo dia mencintai Sara, dia pun memutuskan untuk kabur dari perbudakan yang selama ini diterimanya.

So...it is a good story and I should have liked it. Tapi...
Yah gimana ya....saya gak bisa bilang ini masuk bestiality karena walau pun bentuknya banteng, tapi Minotaur bukan hewan biasa. Mereka bahkan lebih cerdas daripada manusia. Akan ada jutaan fans fantasi yang ngamuk kalo saya menyamakan minotaur dengan banteng biasa. Jelas....cerita ini gak bisa dianggap bestiality.
Dan gak ada adegan forced sex juga di sini. Malah Sara nya kepengen banget dicelupin (bahasanyaaa) sama Warrick.  Tapi....saya gak bisa membayangkan apa jadinya kalo Sara beneran hamil bayi minotaur.

Minotaur kan gede buanget. Sara seukuran wanita normal. Kalo dia hamil anak minotaur, kandungannya bakal segede......ah sudahlah...otak saya mau meledak bayanginnya >.<

Kesimpulannya, setelah baca empat novela pararom, saya pun makin sadar kalo genre ini kurang cocok buat saya. Untuk sementara, saya pun menjauh dulu deh dari dunia Paranormal Romance (Heleeeh, ini mah bukan Paranormal Romance ah X) X) - Ren) . Kecuali ada yang bisa kasih saya ebooknya "Snowballin' : I Fucked Frosty". Yang itu tampak menarik :))


Tuesday, February 18, 2014

Monster Erotica (Part 1) :The Horny Leprechaun

Duh...lama gak ngisi blog ini, sekalinya ngisi malah ngereview novela >.<
Ya maap...Tapi saya ngerasa novela-novela ini terlalu menarik untuk dilewatkan.

Jadi gini...
Saya tuh bukan penggemar paranormal romance meskipun hard core fans nya fantasi. Bukan apa-apa sih. Tapi buat saya agak susah membayangkan fairy dan dracula pacaran ato iblis dari neraka jatuh cinta sama ratu malaikat misalnya (apalagi sampe ke sex scene). Bahkan adegan romance Aragorn - Arwen susah masuk ke otak saya. Untunglah di LOTR gak ada sex scene antara Aragorn-Arwen sehingga otak saya gak perlu nambah keriting waktu baca buku itu #menurutngana.

Jadi...saya salut banget sama tingginya level imajinasi para penggemar genre paranormal romance. Dan dengan kesadaran diri, saya selalu menghindari baca genre itu.
Sampai suatu hari Ren,  rekan Spankers saya mengirim 4 (saya ulang ya biar dramatis : EMPAT!) ebook bertajuk Monster Erotica disertai pesan dari Ren :  

"Ceritanya sih aneh...tapi cuma 20-30 halaman kok. Hwhwhwhw..."

Adoohhh.....saya kan jadi penasaran ceritanya seaneh apa X)

Mari kita mulai review ini dengan novela pertama yang saya baca : The Horny Leprechaun yang ditulis oleh Nikita King, diterbitkan dalam format ebook dan bisa dibeli di smashwords.

Bercerita tentang Karen yang bisa memenuhi impiannya ke Irlandia. Saat di sana dia melihat pelangi. Penasaran dengan dongeng kuno di Irlandia, Karen pun mulai mencari ujung pelangi. Usaha Karen berhasil. Dia menemukan akhir pelangi di mulut sebuah gua.

Sesuai dengan legenda, yang menanti Karen di ujung pelangi adalah segentong emas. Sayangnya di samping pot emas itu, ada pula leprechaun ganteng bernama Collin yang ngamuk liat Karen ada di gua-nya. Collin parno kalo Karen mau mencuri emasnya.

Dan Collin pun menghukum Karen dengan (apalagi kalau bukan) sex. Gak peduli walau pun Karen menolak keras hukuman dari Collin (menjadikan aksi ini termasuk pemerkosaan menurut saya). Dan bukan cuma sekali-dua kali Collin havng sex dengan Karen, sodara-sodara! Tapi berkali-kali dengan berbagai gaya dan posisi! Collin bahkan sukses memerawani "pintu belakang" Karen #iyeuww.

Dan walau pun Karen mengutuk dan memaki setiap aksi yang dilakukan Collin, dalam hati sih dia suka juga, Secara yah....dia yah..gitu deh...kebanjiran di akhir cerita (kenapa bahasa saya begini amat ya?).
Itu baru cerita di buku pertama....

Buku kedua bersetting 8 minggu setelah kejadian bersejarah di gua.

Kali ini, Collin kena batunya. Dia kangen mati-matian sama Karen. Saking kangennya, dia ampe beli cermin ajaib dari seorang penyihir. Cermin itu dipake Collin untuk mengintip setiap aktivitas Karen, setiap menit, setiap detik (stalker abis!). Jadi Collin juga liat saat Karen lagi "self pleasure" sambil nyebut nama dia (cieeee.....) dan...saat Karen tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif.

Bahagialah Collin. Dengan kehamilan Karen, artinya dia bisa menghabiskan hidupnya bersama Karen (ini dua hal yang gak nyambung sebenernya. Apa di dunia leprechaun gak ada istilah joint custody?). Dia pun langsung ke NY untuk menjemput Karen. Dan panik begitu sampai di apartemen Karen dan mengetahui bahwa sang gadis baru saja diculik oleh Night Gaunt.

Sisa cerita pun seputar usaha Collin untuk merebut kembali Karen dari cengkeramanNight Gaunt. Kisah ditutup dengan Collin dan Karen yang hidup bahagia dipenuhi oleh sex fantastis dan kehamilan Karen. But this time, she's a very willing participant.

Buku pertamanya bikin saya eneg karena forced sex yang bertaburan di sepanjang buku. Ya..ya...saya tahu kalo ada beberapa orang yang justru jadi turn on karena forced sex, bahkan ada yang sampe role play pura-pura di-rape oleh partnernya. No judge to them, but it's not me. Seeing (or reading) an alpha male in some "sexy" action is hot for me, but then..I don't like anything that's forced.

Walau begitu, ada bagian yang 'hilarious' dari buku ke-1 ini. Yaitu monolog Karen yang ini :
 "Shock! That’s all Karen could feel, was shock. Didn’t she read somewhere you shouldn’t “double dip”? Yeast infections, bladder infections, fecal matter going into her vagina and not to mention just plain gross."
Mbak...mbak....situ barusan abis diperawani pintu belakangnya, trus didobrak pintu depannya (bahasa lo, wiii). Dan yang kepikir oleh anda adalah masalah higienis? O.o
Saya salut sama anda. *kowtow*

Untuk buku kedua sih...sweet ya. Di sini keliatan kalo Collin beneran sayang sama Karen, ampe bela-belain ke raja para Night Gaunt demi mendapatkan kembali Karen. Dan Collin juga menunjukkan penyesalan atas perlakuan dia sebelumnya terhadap Karen. Bagian hilarious di buku ini ada di bagian akhir, waktu Collin nunjukkin gua yang sudah dia bangun untuk hidup bersama Karen :

“Oh my God!” Karen ran over there. The bookshelf already had some of her favorites on the shelves in Hardbacks:
The Great Gatsby
Wuthering Heights
Jude the Obscure
The Hunger Games Series
The Library at Night
Les Liaisons Dangereuses
Half of a Yellow Sun

“How did you know? How did you know these were my favorites?” She asked with wonder in her voice.
“I friended you on Goodreads,” Collins said with a wicked smile on his face.
“You did what? I don’t remember you friending me.”
“Karen, you have like over four thousand friends on there. I just put a fake avatar and called myself Collie.” Karen punched him in the arm. “That’s sneaky.”
“That’s how I found out your favorite books, so do you like them?” Collins asked


Collin ini entah sweet entah apa deh. Kepikiran cek Goodreads, booo!
Saya gak punya ya stalker di luar sana yang baik hati mau cek shelf gudrits saya dan kemudian mengabulkannya? Tapi plis....ampe di situ aja ya stalkernya >.<

Meski begitu, saya sebenernya masih bermasalah sama unsur "pararom" di novela ini.
See...dalam imajinasi saya, yang namanya leprechaun itu kayak gini :


Kakek-kakek, chubby, jenggot merah, berperawakan imut. Agak susah mengubah imagenya jadi ganteng dan hot layaknya manusia seperti deskripsi di cerita ini. Dan lebih susah lagi membayangkan leprechaun sebagai sex maniac (._.)

Emang sih....Nikita King beralasan kalo si Collin itu campuran, bapaknya leprechaun, ibunya manusia. Makanya dia bisa punya perawakan manusia tapi punya bergentong-gentong emas warisan bapaknya.
Oh well....lucky him then.

Untungnya karena penampakan leprechaun secara umum memang mirip manusia, saya gak kesulitan bayangin adegan per adegan di buku ini. Jadi saya ngerasa belum kapok baca monster erotica dan memutuskan lanjut baca novela berikutnya.

Aduh...udah panjang gini padahal masih ada 3 novela yang mau saya bahas.
Lanjut di post berikutnya aja kali ya. Mudah-mudahan gak panjang.

Thursday, January 23, 2014

Bared to You (Crossfire #1) by Sylvia Day


Judul: Bared to You (Crossfire, #1)
Penulis: Sylvia Day
Format: e-book
Jumlah halaman: 280 halaman
Genre: Romance, Adult Fiction, Erotica, Contemporary Romance, BDSM, Erotic Romance (ini semua kata Goodreads)
ISBN: 0982857195  
ISBN13: 9780982857199
Rate: 3/5
Kipas: 6/5 alias jebol seluruh kipasnya x))

Our journey began in fire...

Gideon Cross came into my life like lightning in the darkness—beautiful and brilliant, jagged and white-hot. I was drawn to him as I'd never been to anything or anyone in my life. I craved his touch like a drug, even knowing it would weaken me. I was flawed and damaged, and he opened those cracks in me so easily...

Gideon knew. He had demons of his own. And we would become the mirrors that reflected each other's most private wounds... and desires.

The bonds of his love transformed me, even as I prayed that the torment of our pasts didn't tear us apart...

Inhale. Exhale. Inhale. Exhale.
Saya sedang kedinginan, nih.Udara Bandung lagi uedan banget dinginnya. Mendadak hareudang alias gerah mengingat saya mau review buku ini.

Ah! Masih kalah ama Arizona! Masih kalah ama Michigan yang katanya sekarang jadi neraka beku itu. Dinginnya Bandung masih belum seberapa!

Oke. Oke. Faktanya saya seharian ini menggigil kedinginan dan sekarang kipas-kipas lagi, kok! :P

Saya lupa apa yang membuat saya akhirnya tertarik baca buku ini setelah menimbun di dalam e-reader saya sekian lama. Faktor FSOG-kah? Bisa jadi. Soalnya katanya mirip. Yah, dimaklum aja. Namanya juga (konon) fanfic (dari serial Twilight Saga). Pasti mirip satu sama lain.

Yang jelas, saya malah melihatnya B2U ini justru fanfic FSOG. Ga tau kenapa. Soalnya, ada beberapa similarity seperti....

1. Inisial dari tokoh utama pria di kedua novel sama-sama mengandung C dan G. Di FSOG kita mengenal Christian Grey, sementara di B2U kita mengenal Gideon Cross. Eh, tunggu. Kok, sama dengan nama blog ini, ya? Berinisial huruf C dan G juga. Wah! Ternyata, ada #destiny antara Cakrawala Gelinjang dengan Fifty Shades of Grey juga Bared to You! #naon

2. Tokoh utama wanita sama-sama punya ayah tiri, karena ibu kandung dan ayah kandung mereka bercerai. 

3. Tokoh utama pria sama-sama stalker, sama-sama pengusaha kaya raya, sama-sama (konon) ganteng luar biasa di mana perempuan mana aja ngeliat ke tokoh utama pria kita ini akan... ummmm... rela kejeduk atau kesandung saking terseponanya?

4. Sama-sama mengandung unsur BDSM, walau di B2U nggak pake alat. Tapi tetep nyerempet ke kata dominan dan sub-nya.

Dan masih banyak kesamaan lainnya, terutama soal menjaga stamina, kamar mandi dan lainnya. 

Cukup, ya, untuk soal similarity. Saya di sini bermaksud menyuarakan ketidaknyamanan saya terhadap Bared to You. Saya agak gimana gitu dengan nama Gideon. Sebab, nama Gideon yang pertama kali saya dengar, langsung ring-a-bell dengan komedian Indonesia yang bernama Gideon. *saya ga mau susah payah brosing apalagi pasang fotonya di sini, soalnya jauh banget dengan kategori tampan, memukau, berkilau, heartbreaking, dan teman-temannya*.
Iya, saya masih ga terbiasa dengan nama "Gideon" ini. Coba namanya yang laen gitu. Mungkin saya nyaman-nyaman aja membayangkan cowok super ganteng setelanjang apa pun. #dikeplak

Untuk kesan pertama, di halaman-halaman pertama, di bab-bab pertama, saya sebal sama Gideon ini. Aduh! Masa, ya, kalimat yang diucapkan pada tokoh wanita, Eva Trammel, ketika mereka baru ketemu adalah, "I wanna fuck you." -_____-"

Terus, yang parahnya lagi, di lokasi mana pun Eva berada, pasti itu kepunyaan Gideon. *sigh*. Itu yang bikin saya beteeeeeeeeeeeeee banget sama buku ini. Belum lagi, kelakuan ibu kandung Eva, Monica, yang bener-bener keterlaluan, sampai telepon selular Eva pun dilacak. Tapi, di akhir cerita, sih, emang akhirnya acceptable kenapa sang ibu melakukan ini.

Belum lagi, mereka ini kok, ya, bisa-bisanya ML di tempat yang ada orang lain yang bisa mendengar. Memicu adrenalin sih emang iya. Makanya kenapa saya sebut kipas 5 ga cukup alias jebol. Karena, "tantangan" membaca B2U di sini adalah sekaligus membayangkan lagi ML di suatu tempat yang tak lazim sementara di sana ada orang lain yang bisa menyaksikan atau mendengarnya. Ouch.

Kagum sama stamina mereka, deh. Asal ketemu, langsung "horny" dan langsung saling terkam. Haduh... dari mana mereka punya energi sebanyak itu, ya? #inipertanyaansuperpolos. 

Di balik cerita terkam menerkam yang selalu ada hampir di setiap lima halaman ini (apakah saya lebay?), rupanya ada misteri-misteri yang belum terselesaikan, bahkan sampai buku ini mencapai halaman terakhir. Masih belum tahu apa penyebab nightmare Gideon selama ini. Masih belum tahu solusi apa yang dilakukan Eva dalam melalui buruknya masa lalu. Jujur aja, karena ada misteri yang belum terungkap, mau nggak mau, saya harus membaca buku berikutnya. Mungkin, kalo baca buku kedua nanti, saya harus siapin AC yang dinginnya puolllll. Biar kipas angin ga jebol saking puanasnya. Menurut ukuran saya. Hihihi...


Wednesday, January 8, 2014

The Rocker That Needs Me : Rocker Galau





Serial : The Rocker #3
Penulis : Terri Anne Browning
Penerbit : Anne Henson, Juli 2013
Tebal : - (data tidak tercantum di Goodreads)
Genre : Contemporary Romance


ASIN : B00DSDPTTI
The Demon…

I’ve been fighting my own demons for most of my life. The alcohol seems to numb the pain, but it never makes the nightmares go away. All I want in life is a little peace. When I met my angel it felt like I found it, but there is so much standing between us. Why does she have to be so young…?

The Demon’s Angel…

Meeting Drake was the best thing to ever happen to me. I found my friend, my soul mate. But he lets my age stand between us. There is something that haunts him, and I selfishly want to be the one that helps him conquer his ghosts. If he would just let me in, let me closer, I think I could help him…
 
Dibuku kedua sudah sedikit disinggung tentang Drake. Iya Drake dan Lana. Yang saya bilang hubungan mereka kayak om-om dengan remaja itu ._.
Kisah mereka berlanjut bahkan lebih kompleks di buku ketiga ini. Sekarang Drake sudah lebih santai, tenang, dan mulai menekuni kembali hobi melukisnya yang dulu sempat ia tinggalkan. Semua perubahan itu adalah dampak dari kedekatannya dengan Lana. Layla, kakak Lana pun akhirnya mengikhlaskan kedekatan mereka karena dampak positif Lana pada Drake.
Satu malam Drake dan Lana tidur bareng. Parahnya di pagi hari setelah kejadian itu Drake sama sekali tak ingat apa yang terjadi tadi malam. Lana patah hati dan memutuskan untuk pindah ke New York untuk melupakan sakit hatinya. Iya Lana butuh suasana dan kota baru supaya bisa move on dari Drake *enak bener* *patah hati aja mulu biar pindah mulu* *lama-lama bisa keliling dunia karena patah hati*
Drake stress berat!! Dia mulai kembali mabuk-mabukan hingga akhirmya harus direhabilitasi. Pasca rehabilitasi itu, The Demon's Wings mendapat tawaran untuk menjadi salah satu juri pada ajang pencarian bakat. Nik dan Jesse menolak mentah-mentah tawaran itu *gengsi dong* *masa rocker jadi juri gituan* *dikeplak* Tapi Drake langsung menyambar tawaran itu. Apalagi kalau bukan karena ajang pencarian bakat itu diadakan di New York, tempat Lana berada.
New York mempertemukan mereka kembali. Dan kejadian yang dulu pun terulang kembali. Tapi kali ini Lana tak bisa lari. Semua anggota Demon's Wings termasuk Em, Layla, Lucy dan Mia ikut turun ke New York membantu dua sejoli itu menyelesaikan masalahnya. Ternyata masalah kali ini jauh lebih rumit dari yang lalu.
***
Kali ini gregetan yang terasa  di dua buku sebelumnya terasa kurang. Saya kurang menikmati cerita Drake dan Lana. Drake yang sudah dewasa, banyak makan asam garam kehidupan mendadak berubah seperti remaja, galau dan lari ke alkohol gara-gara ditinggal Lana. Lana sibuk sehingga gak bisa ketemu dengannya, Drake langsung galau. Pokoknya Drake kayak remaja banget deh. Gampang banget galaunya. Saya malah lebih penasaran pada cerita Shane. Iya. Dibuku berikutnya *katanya* tentang Shane  \(^_^)/
 Bicara tentang PoV yang diambil dari dua sudut pandang sebenarnya sudah cukup baik. Namun sayangnya selalu terjadi pengulangan cerita yang ujung-ujungnya terasa membosankan :| Untuk adegan ihik-uhuk-ehemnya kadar dibuku ini jauh lebih banyak dari dua buku sebelumnya.
Tentang covernya.... hhhhmmm... covernya juga kurang menarik bagi saya meski lebih membuat kipas-kipas yang melihatnya. Tidak ada chemistry diantara kedua modelnya. Parahnya melihat cover buku ini saya malah langsung terbayang pada kalimat "habis manis sepah dibuang" Kenapa coba gayanya harus seperti itu ._.

Sunday, December 15, 2013

Aku dan Fifty Shades of Grey


 Judul: Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)
Penulis: E. L. James
 Cover image: Papuga2006 | Dreamstime.com
Cover design: Jennifer McGuire
Diterbitkan pertama kali oleh The Writer's Coffe Shop
Edisi 1, April 2011
e-book
ISBN: 978-1-61213-029-3
erotika, xxx, buku dewasa



When literature student Anastasia Steele goes to interview young entrepreneur Christian Grey, she encounters a man who is beautiful, brilliant, and intimidating. The unworldly, innocent Ana is startled to realize she wants this man and, despite his enigmatic reserve, finds she is desperate to get close to him. Unable to resist Ana’s quiet beauty, wit, and independent spirit, Grey admits he wants her, too—but on his own terms.

Shocked yet thrilled by Grey’s singular erotic tastes, Ana hesitates. For all the trappings of success—his multinational businesses, his vast wealth, his loving family—Grey is a man tormented by demons and consumed by the need to control. When the couple embarks on a daring, passionately physical affair, Ana discovers Christian Grey’s secrets and explores her own dark desires.

Erotic, amusing, and deeply moving, the Fifty Shades Trilogy is a tale that will obsess you, possess you, and stay with you forever.

This book is intended for mature audiences. (dari Goodreads)

Ini posting pertama saya di Cakrawala Gelinjang. Dan karena posting inilah, Spank Club, cikal bakal Cakrawala Gelinjang bermula....

Oke, mari kita mulai ngobrol. Eh, maksudnya, biarkan saya bercerita tentang kisah saya selama membaca buku ini. Eh, bukan itu maksudnya. Apa, ya? Terserah, deh. Saya juga bingung. Pokoknya, saya mau cerita di sini. Titik. :D

Sebetulnya, saya termasuk sangat terlambat tahu tentang kehebohan buku ini. Mungkin, karena tadinya, teman-teman saya di Goodreads orangnya lurus-lurus, jadi, keberadaan buku ini sama sekali tidak ada di Home/Newsfeed Goodreads. Sampai akhirnya, saya berteman dengan beberapa penggemar buku kacrut, erotis, apa pun itu namanya dan mulai menemukan review buku ini dengan begitu hebohnya. Bahkan, ada review salah satu kontak saya di Goodreads yang diserang beberapa pembaca lain (orang luar, sih), karena ketidaksukaannya sama buku ini.

Jujurly, saya belum pernah baca buku bergenre seperti ini. Erotis, xxx, apa pun itu sebutannya. Jadi, ini buku pertama yang saya baca. Udah gitu, ada unsur BDSM pula! Di awal sebelum saya keidean buat baca buku ini, saya gugling dulu buat cari tahu tentang BDSM. Huwow! Seyeeem! Kok, pake diiket gitu? Kok, ada cambuk-cambuk begitu? Apakah... mereka bercinta pake acara dicambuk? Issh... Rasanya kok saya pernah, ya, nonton film, err.. bukan nonton, sih, lihat sekilas entah di tv mana, dan entah kapan juga itu, kayaknya saya masih kuliah, deh... Di situ ada orang lagi bercinta *kalo sebutannya begitu*, tapi perempuannya diikat di tempat tidur, mata ditutup dan dicambuki. Katanya, makin si perempuan mengerang, si pria makin terangsang. DOH!

Kesimpulan awal setelah saya baca FSOG, perempuan yang di film yang saya lihat secara nggak sengaja itu yang disebut sebagai Submissive, sementara si pria yang disebut Dominant. Harap dicatat, saya sama sekali nggak nonton bener film itu dan saya bahkan nggak tahu itu film ceritanya apa. Apalagi ingat judulnya. Boro-boro. Hahaha...

Lalu, saya teringat lagi, ketika membaca salah satu review FSOG di Goodreads, ada yang bilang, bahwa BDSM itu sebetulnya titik beratnya adalah pada masalah percaya. Percaya nggak si Submissive ini pada Sang Dominant. Percaya apa? Saya juga nggak tahu. Percaya bahwa Sang Dominant nggak akan menyakiti Si Submissive ketika dia pakai peralatan mengerikan itu? Entahlah. Saya belum cari tahu banyak dan memilih nggak tahu dulu. Karena saya sama sekali nggak tertarik dengan metode bercinta ala BDSM, kok. Serius. Cara yang romantis itu jauh lebih menyenangkan dan menggairahkan, kok. #eh

Lalu, Fifty Shades of Grey ini sebenarnya cerita tentang apa? Cerita tentang gadis clumsy bernama Anastasia Steele, mahasiswi tingkat akhir sebuah perguruan tinggi, yang terpaksa mewawancarai Christian Grey, CEO sebuah perusahaan miliknya sendiri, untuk keperluan majalah kampusnya. Ana ini menggantikan Katherine Kavanagh, sohibnya, temen serumahnya juga, yang lagi kena flu berat jadi nggak mungkin mewawancarai Grey dalam keadaan sakit.

Ternyata, dari ke-clumsy-an Ana ini, bikin Grey suka sama Ana. Dan nggak hanya itu, Grey ini stalk di mana pun Ana berada. Kayak gimana bisa "kebeneran" Grey datang ke tempat kerja Ana, buat beli beberapa barang yang rada aneh aja menurut Ana buat diborong sama Grey. Kayak kabel, kawat, dan lain-lain. Banyak, sih, kebeneran yang lainnya, yang membuat saya super yakin, kalo Grey ini nggak mau terlalu jauh dari Ana. Terus, gimana ceritanya Grey bisa tahu alamat pos Ana, karena dia kirim buku klasik Tess ke rumah tempat Ana tinggal.

Awalnya, Grey bilang dia nggak mungkin jatuh cinta. Tapi lalu, Ana diajak "ngamar". Dan karena Ana emang udah naksir berat sama Grey sejak awal ketemu, jadi mau-mau aja. Lagian dia juga horny lihat si Grey. Eh, tapi... Grey yang tadinya mau memberlakukan cara dia biasa bercinta, kaget sewaktu tahu Ana masih perawan.

Dan berikut-berikutnya... ya begitulah. Sedikit demi sedikit, Ana dikenalin sama cara bercinta ala Grey yang mengarah ke BDSM itu. Oh, ya, satu hal: Grey tidak menyebut berhubungan seks dengan Ana itu sebagai "make love" tapi sebagai "fuck hard".

Dan... kayaknya si Grey ini nggak kenal capek, ya... Setiap lihat Ana gigit bibir, dia pasti horny, walau pun baru aja dia habis "nyampe" setelah gedubrakan sama Ana. Dan lalu... gedubrakan lagi, deh, sama Ana.

Nah, sebetulnya, yang mengganggu di buku ini adalah: dari sejak bab ke sekian, isinya tentang perjanjian dan ketika halaman buku udah mau habis, masih aja bicara soal perjanjian yang belum juga disepakati sama Ana. Sebetulnya banyak sih, adegan annoying di buku ini.


Sebenernya, kalo di bagian "gedubrakan"nya itu, biasa aja, sih, menurut saya. Nggak bikin saya sampai ikutan menggelinjang saat bacanya. Entah saya terlalu lempeng atau saya nggak tertarik membayangkan sentuhan Grey pada Ana? Nggak tahu juga, sih. Pokoknya, ya, kalo penulisnya lalu disebut Mommy Porn, kok, kayaknya masih banyak yang lebih layak dapat sebutan demikian karena adegan seksnya lebih gimanaaaa.... gitu. Hihihi...

Sebenarnya, saya nggak suka sama Grey, awalnya. Karena dia kok, orangnya abusive banget, yak! Ana harus tunduk sama dia. Harus nurut sama apa kata Grey tanpa Ana bisa mengelak. Seakan-akan Ana nggak punya hidupnya sendiri dan bahkan nggak boleh jatuh cinta sama Grey, hanya karena hubungan mereka sebagai Dominant - Submissive. Eh, dan satu lagi, sih. Sebetulnya, perjanjian mereka belum disepakati, lho, kok... bisa-bisanya Ana mau jadi Submissive dan gedubrakan sama Grey ala Grey? Seharusnya, Ana nggak mau! Seharusnya, Ana juga punya hak buat menentukan dia mau apa, kan perjanjian belum ditandatangani? Mereka kan belum sepakat? Kok, bisa, sih? Atau, saking lemahnya Ana, jadi dia pasrah aja? Ish!


Di bagian akhir cerita, entah kenapa... mereka berdua dapat simpati saya. Huh! Saya kan jadi tertarik buat baca buku berikutnya. Udah buka-buka bagian awalnya, sih. Tapi saya simpan aja dulu, deh. Buat dibaca tahun depan aja....

Apa yang saya dapat dari FSOG? Pengetahuan tentang BDSM? Mungkin, sih. Cuma, ternyata katanya, pas ngobrol ama teman, penulisnya sebenernya nggak menggali sangat jauh soal BDSM. Jadi, yah, nggak bisa dibilang akurat juga, yak, pengetahuan yang saya dapat dari BDSM.

Kalo soal gedebuk in lap antara Ana dan Grey... cerita di Twilight Series lebih keren. Well, oke, note to myself, kalo FSOG ini berangkat dari fanfic Twilight Series. Jadi, yah... yang lebih "seru" menurut saya ya ada di Twilight Series kalo soal cinta-cintaannya mah. Lebih seru karena lebih menyebalkan. Hahaha...

Jadi intinya begitu. Sebelum saya baca FSOG dan baca review orang-orang, saya cari tahu dulu apa itu BDSM. Jadi, akhirnya saya tahu, bahwa ada ya, manusia melakukan hubungan intim di luar pakem romantisme karena mereka pakai bantuan alat. Dan akhirnya saya juga tahu, bahwa ada orang-orang masokis yang hobi berhubungan intim dengan cara-cara begitu. Lalu saya memberanikan diri baca FSOG dengan siap-siap linu. Eh, ternyata, yah, ada sih yang bikin linu, cuma ternyata nggak seserem yang saya bayangin.

By the way, saya nemu gambar beginian di Goodreads. Hihihi...


Oke, sekian dan terima kasih. Mohon maaf kalo review saya kurang menggigit, kurang gereget, kurang memuaskan. Saya cuma bingung mau ceplas ceplos di sini... Soalnya jarak antara saya baca buku FSOG dengan nulis review di sini terbilang udah jauh banget... Dan saya udah abis-abisan di Goodreads. Udah kehabisan mau nulis apa lagi di sini soalnya. Kode spoiler yang saya dapet belum bisa diaplikasikan. Huhuhu...



Saya "suka" FSOG karena....   

1. Ternyata, meski udah umur 20 something, Anastasia Steele itu masih virgin! Wow! Suatu prestasi yang teramat sulit buat remaja cewek di Amrik: menjaga keperawanan. Atau Ana nggak laku dipacari? Apa pun itu, menjura, deh! Dia udah hebat bisa jaga keperawanan! Tapi... lalu, kenapa harus hilang keperawanannya sama Christian Grey? Kok mau-maunya? Segitu dahsyatnya kah, magnet yang ada pada Christian Grey, sampai dia suka rela nyerahin sesuatu yang udah dia pertahankan selama dua puluh tahunan? Padahal, sekalian aja, nunggu nikah sama dia. Blah! Bicara apa saya ini? Ini kan bukan novel Gone With The Wind, di mana perempuan Amerika pada masa itu masih jaga keperawanan sampai mereka menikah? #toyor diri sendiri.

2. Bagian mereka saling kirim email itu bikin ceritanya jadi lumayan hidup. Lucu aja, sih. Kebayang, Ana yang baru pertama kali gedebuk in lap segitu rupa ama seorang cowok, jadi suka penasaran ada email atau sms ga dari Christian, meski lagi bete atau ngambeuk. Beneran, deh, bagian ini cukup menghibur saya. Juga isi SMS mereka. Atau telponan mereka.

3. Christian itu sebenernya pemerhati soal isu kelaparan. Meski ga banyak diceritain, tapi, ya, saya suka lah. Berarti dia ada perhatian ama dunia. #apasih

4. Ada Taylor, karyawan Christian yang hebat. Diamnya pun mengademkan hati.

5. Ada Ray! Ayah tiri Ana yang bela-belain dateng buat wisuda Ana!
Ini yang saya nggak suka dari FSOG:   

1. Ana yang pengumpat. Menjura banget, deh, sama yang niat menghitung ada berapa jumlah "holly shit", "holly fuck", "holly crap", nyebut nama lengkap si Kate dengan "Katherine Kavanagh berulang-ulang, dst.

2. Christian yang control freak, stalker. Dia kayaknya punya banyak mata-mata, deh. Tapi wajar, dia kan milyuner. Tinggal bayar orang buat melakukan apa yang dia mau. Cuma sayang aja, sih. Cakepnya katanya flawless. Tapi yah, cowok ganteng banget mah emang gitu, katanya. Kalo nggak dia brengsek, dia gay. Atau dia bodoh. Untuk Christian, berarti dia brengsek. Soalnya ga bodoh atau ga gay. Hahaha... Ups! Jangan bilang-bilang ama Christian, ya. Ntar dia mencambuk saya. Haesssh.. siapa sayaaa... jadi submissivenya juga ga mauuuuuu... meski dia bisa beliin saya Mac Book Pro sekontainer juga, saya ga maooooo....

3. Ana nggak ngerasa sakit gitu, pas kehilangan virginitasnya? Segitu jagoannya kah, Christian Grey, sampe si Ana nggak ngerasa sakit sama sekali? Tapi, kan....

4. Bercinta pake apa itu? Vagina balls? Ish... Eh, bukan bercinta, kan, itu, si Grey nyebutnya. Fuck hard. Iuuuh. Dan bercinta pas si Ana lagi bleeding karena datang bulan. Halooo... darah haid itu kan berpotensi nyebarin penyakit. Gimana, ih, si Grey teh... Sempet nyaris banting ebook reader. Tapi, kan, ebook readerku nggak salah. Mahal pula! *elus-elus iRiver*.

Jadi, akhirnya mengumpat aja. Tengah malem. Beneran melek, loh, pas baca bagian itu setelah asalnya nyaris tertidur. Melek bukan karena terangsang! Melek karena marah!

5. Grey yang mudah terangsang kalo lihat Ana gigit bibir. Dan bisa "fuck hard" si Ana di mana aja, walau pun itu di eskalator, asal liyat Ana lagi gigit bibir. *eyeroll*

6. Grey yang mudah marah kalo lihat Ana mutar bola matanya karena ngerasa aneh. Lalu menghukum Ana.

7. Grey yang nyembunyiin satu-satunya panties Ana pas ada acara dinner ama orangtua Grey. Jadi Ana ga pake panties selama acara itu dan sempet-sempetnya ber**** di salah satu ruangan dalam waktu yang mepet.

8. Katanya, Ana disediain segala perlengkapan baju baru sama Christian Grey. Disuruh ke salon yang udah ditunjuk. Dipertemukan oleh obgyn khusus. Tapi nggak disediain sikat gigi baru, jadi Ana pake sikat gigi punya Christian. Kaya raya, bisa beliin Mac Book Pro, Audi, Blackberry, baju selemari, tapi ga bisa beliin sikat gigi baru? INI BARU BERITA!

9. Kenapa Ana harus punya dua kepribadian lain? Subconcious ama Inner Goddes. Oke, yang satu genit yang satu pemalu. Tapi kenapa nggak jadi Anastasia Steele aja? Agak keganggu sih, ama si Subconcious atau Inner Goddes ini. Gimana, ya, cara Ana ngeliat keduanya?

10. BDSM-nya sih, di sini sebetulnya ga seseram yang saya baca atau lihat gambarnya di beberapa sumber. Di sini, Ana diiket. Pertama kalinya diiket pake dasi, ditutup matanya pake kaosnya sendiri. Berikut-berikutnya, pas udah di Red Pain Room, Ana mulai diborgol. Cuma yang ngeri pas udah mulai pake alat yang katanya bakalan ngeluarin darah dari kulit Ana, meski ga sakit *katanya* *tapi saya tetep meriang bacanya*, dengan tujuan Ana jadi lebih sensitif sama sentuhan.

So, yang saya pernah baca di review entah siapa, sebetulnya BDSM itu masalah kepercayaan. Jadi, siapa pun yang jadi Dominant nggak boleh menyakiti Submissive. Sayang, ilang linknya. Nanti lah kalo nemu, saya taruh di sini linknya.

11. Sampe selesai baca bukunya, perjanjian itu tetep nggak ditandatangani sama Ana. Tapi, kok, dia udah mau berada di Red Pain Room sebelum ditandatangani, ya? Ah... Ana labil...

Nah, bagi saya... bercinta itu buat bersenang-senang. Bisa saling menyentuh. Disentuh dan menyentuh. Dan menurut saya, tangan diikat, mata ditutup selama digerayangi dan disetubuhi itu sama sekali nggak seksi. Paling benci pas bagian Christian bilang, "keep still, Anastasia", setiap Ana nggak bisa diam pas digerayangin. Lah, orang si Ana menikmati apa yang Christian lakukan, masa ga boleh menggelinjang. Gimana, sih! *injak-injak Christian Grey*

Saya ngebayangin, Christian Grey berbahasa Inggris doang, dan Anastasia Steele berbahasa Inggris, Indonesia tapi bisa mengumpat dalam Basa Sunda.

Christian Grey: "Are you rolling your eyes, Miss Steele?"

Anastasia Steele (murmur): "Mau tau beneran atau mau tau aja?"

Christian Grey: "What did you say?"

Anastasia Steele: "Nothing. Nggak ada. I didn't roll my eyes on you, Sir. Lu aja berhalusinasi."

Christian Grey: "What? I saw you rolling your eyes at me, Anastasia."

Anastasia Steele: "Nggak, kok, cyyyn. No, I didn't, Sir."

Christian Grey: "Yes, you did. Now turn around, I will spank you now."

Anastasia Steele: "Terus, gue harus koprol sambil bilang wow gitu?" *kali ini, Ana beneran muter matanya*

Christian Grey: "Count, Anastasia! Count! You count!"

#ctarr #1

Anastasia Steele: "Kehed siah!"

Christian Grey: "What?"

Anastasia Steele: "Means one, Sir!"

#ctarr #2

Anastasia Steele: "Geuleuh siah maneh!"

Christian Grey: "Count!"

Anastasia Steele: "I count, Sir! Its two!"

#ctarr #3

Anastasia Steele: "Anjir! Nyeri! Gebleg! Nanaonan maneeeh!"

Anastasia Steele: "Three, Sir! Sundanese!"

#ctarr #4

Anastasia Steele: "Koplok siah! Aing mbung deui sare jeung maneh!"

Christian Grey: "Don't count in Sundanese! I don't understand!"

Anastasia Steele: "Four!"

lalu, karena Christian Grey gusar, masa sih, "empat" dalam bahasa Sunda udah segitu panjangnya, gimana sepuluh? Akhirnya, Christian menghentikan pukulannya, karena dia udah cape duluan ngedengerin cara Anastasia berhitung.

Eh, tapi...

sebenernya saya nggak berminat meneruskan baca buku keduanya, kalo nggak karena endingnya yang justru bikin saya penasaran ama kelanjutan kisah Anastasia Steele ama Christian Grey.

Jadi, ya semoga buku kedua nggak mengecewakan banget, deh. Heuheu.

Saya... kasih 2 aja, ya... Buat covernya yang "mengundang". Buat email-emailannya. Buat endingnya yang mengundang saya buat baca buku kedua. Ihik. Ya, saya akui saya tergoda buat baca buku keduanya, karena ending Fifty Shades of Grey ini.

Eh, iya. Ini penting banget!

Buat yang belum nikah, terus menganggap buku ini sebagai pelajaran seks atau edukasi pra nikah, YOU GOT IT WRONG!

Carilah buku pelajaran seks yang lebih manusiawi. Novel ini sama sekali bukan acuan belajar seks.

*teringat thread di suatu jejaring sosial, ada yang bilang, jadi belajar tentang seks lewat buku ini, sebagai pemula.* GUBRAAAK!

Sekali lagi saya ingatkan, carilah buku pelajaran seks yang lebih edukatif. Bukan ala BDSM macam gini. Buat saya ini mah ga ada seksinya sama sekali. Nggak tahu, ya, kalo ada yang doyan bercinta sambil diiket mah. Da saya mah ga doyan :P

Saturday, December 14, 2013

A Lady's Pleasure : Legenda Lilin Ungu

Judul Buku : A Lady's Pleasure
Penulis : Renee Bernard
Halaman : 367
Penerbit : Gagas Media

Saya sebenarnya bukan penggemar novel Historical Romance. Tapi sejak buku yang diberi julukan "Lilin Ungu" ini ramai dibicarakan sebagai "buku kipas" di timeline twitter, saya jadi penasaran. Terima kasih untuk mbak @asdewi yang sudah meminjamkannya :)
Merriam Everett, seorang wanita pemalu dan penurut, tidak menolak ketika ayahnya menjodohkannya dengan seorang bangsawan. Namun, sampai suaminya meninggal dunia Merriam tidak pernah merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Dia hanya ditemui oleh suaminya dua kali dalam setahun. Ketika Merriam menjadi janda, dia bahkan dijuluki si janda pucat oleh Julian Clay, Earl of Westleigh. Merriam sakit hati mendengar julukan itu dan dia berniat membalas dendam. Dia akan membuat Julian tergila-gila padanya dan Merriam akan meninggalkanya segera. Rencana mulai disusun, dan di pesta topeng Lord Milbank adalah tempat yang tepat bagi Merriam melancarkan aksi balas dendamnya. Dia mau tampil sebagai kucing, bukan lagi sebagai tikus.
Sayangnya, Merriam salah sasaran. Dia justru menggoda Drake Sotherton, Duke of Sussex. Hubungan intim yang singkat pada malam pesta topeng itu justru membuat keduanya saling tertarik. Drake pun meminta Merriam untuk menjadi kekasihnya selama musim perjodohan, dengan janji akan memberikan kepuasan penuh bagi Merriam selama semusim itu. Keinginan Drake menjadikan Merriam sebagai kekasihnya bukan semata-mata karena ketertarikan fisik saja, tapi ada niat lain di belakangnya. Drake berpikir bahwa Merriam adalah kaki tangan Julian Clay, orang yang membunuh istrinya.
Delapan tahun yang lalu, Lily, istri Drake ditemukan tewas di rumahnya. Saat itu Julian ada bersama istrinya. Drake sebenarnya tahu akan perselingkuhan Julian dan Lily, bahwa Julian selalu merebut apapun miliknya termasuk istrinya sendiri. Di pihak lain, Julian menganggap Drake mengirimkan seseorang untuk membunuh Lily agar tidak bisa dimiliki oleh Julian. Ketika Merriam hadir dalam kehidupan Drake, persoalan masa lalu itu kembali muncul di permukaan.
Saya tidak tahu apa yang membuat buku ini menjadi Romantic Times Award Winner of  'Best First Historical Romance' (2006). Mungkin karena banjir adegan kipas kali ya antara Drake dan Merriam. Adegan kipasnya sejak halaman awal lho... Sayangnya, dialog antara Drake dan Merriam sendiri tidak terbangun dengan baik, malah nyaris membosankan dan membingungkan. Sampai akhir cerita (dengan twist di bagian akhir) saya tidak menemukan gregetnya konflik antara Drake, Julian dan Merriam.
Trus... saya kok menangkap ada kesan jablay pada tokoh Merriam. Demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap gairah dan hasrat yang dirasakannya terhadap Drake, dia sampai "menyerahkan" dirinya pada Drake. Bahkan Merriam sampai mimpi threesome dengan Julian dan Drake :D.   Walaupun pada akhirnya Merriam berhasil mengubah image tikus yang melekat padanya menjadi kucing. Tapi rata-rata cerita romance memang berawal dari ketertarikan fisik untuk kemudian berubah menjadi cinta sejati.
So far... saya mau ngasih bintang dua untuk ceritanya. Tapi karena sampulnya bagus dan warna ungu-nya eye catching, saya tambahkan satu bintang lagi deh... :)