Showing posts with label keseharian. Show all posts
Showing posts with label keseharian. Show all posts

Tuesday, June 24, 2014

"You Never Know till You Have Tried" Yay or Nay?

Jadi, seperti biasa, kami-kami di Spank Club itu setiap harinya ngobrol akrab dengan topik keseharian mulai dari topik buku, ngegosipin orang, sampe yang terbaru beberapa waktu lalu ada yang heboh kirim-kirim foto C-String berikut foto model orang yang pakenya dan tutorial cara pakenya. *kalo ga salah, sih*

Tenang... Saya bukan mau bahas soal C-String karena saya kurang berminat pakai C-String. Hahaha...

Yang jelas, tadi pagi kami sempat heboh mengenai kelakuan remaja masa kini di Spank Club. 

Jadi, ada seorang rekan dokter curhat mengenai pengalamannya kemarin di rumah sakit tempatnya bertugas. Ini saya copas dari ceritanya, ya... nggak ada yang saya kurangi maupun saya tambahkan.

`'Kelucuan' di UGD kemarin:

Jam 1 siang datang cewek 19 thn diantar bapaknya. SI anak ini 2 bulan lalu dirawat krn sakit maag. Dan kata si bapak, sejak pulang dirawat kok ga sembuh2. Anaknya masih suka muntah, sekarang ngeluh perut kiri bawah sakit dan jadi buncit.

Yaaa... aku bisa ngeliatlah kalo itu buncitnya bukan buncit biasa. Jadi aku suruh testpack. Dan bener... hasilnya positif.

Si anak langsung menyangkal. Dia bilang dia masih perawan. Berani sumpah pula. Setelah dibujuk dan didesak , akhirnya si anak ngaku kalo pernah intim sama pacarnya. Ngomongnya gini: "Tapi cuma masuk ujungnya aja. Kata dia gak bakal hamil kok kalo cuma ujungnya"

Lalu bapak dan anak itu pun pulang.

Jam 10 malam, waktu shiftku udah mo kelar dan aku siap2 pulang, eeeh... cewek tadi datang lagi bareng pacarnya.

Si pacar gak percaya kalo cuma masuk ujungnya aja bisa hamil. Jadi minta dijelasin gimana bisa hamil kalo cuma nempel.

Trus... udahnya si cowok ngaku, "sebenernya gak cuma ujung, dok. Ya sempet kepleset sih. Kecelup satu dua kali. Tapi sempat saya tarik kok."

Boooo.... kepleset dan kecelup kata dese.

Akhirnyaaaaaaaaaaa... aku ended up jelasin tentang resikonya kecelup, telat angkat, dan safe sex. Juga sex during pregnancy.

Dan semua kuliah itu baru selese jam... 12 malam`

Kalo Alvina sih langsung memutuskan nggak jadi nyeduh teh, karena mendadak ilfeel. Hahah. Soalnya kan, teh yang mau diseduhnya teh kantong. Pasti ada adegan celup *heh

Saya jadi inget pepatah "You Never Know till You Have Tried". Tapi kayaknya untuk seks di luar nikah, apalagi masih pada sekolah, belum punya penghasilan sendiri, menurut saya pepatah ini nggak patut dicoba, deh. Menurut saya, lho.

Saya jadi ingat, semasa saya masih sekolah dulu, dari menjelang masa pubertas, ibu saya udah mulai galak soal hubungan antara perempuan dan laki-laki. Mungkin ibu saya es krim ekstrim banget, semua temen cowok yang main ke rumah pasti diinterogasi sampai rasanya maluuuuu banget. Tapi kemudian saya paham. Ibu saya khawatir saya bakalan terjerumus ke suatu lembah yang mungkin akan sulit buat saya bangkit lagi *iya tulisan saya ini kok muter-muter gini, yak. Haha. Tapi kurang lebih maksudnya ibu saya takut saya tekdung*. Soalnya, pas saya beranjak remaja, beberapa tetangga di lingkungan RW saya banyak yang kecolongan a.k.a mbak-mbak abegong yang masih SMP SMA itu kedapatan hamil. Gimana ibu saya nggak parno. Yang menyebabkannya menjadi super duper protektif terhadap saya.

Maka sex education pun dimulai ketika saya mulai mendapatkan menstruasi pertama saya. Ibu saya bilang, "no pacaran sampai sudah umur 17 tahun." Jadi, kalo ada temen cowok main ke rumah, ibu saya baweeeeeeeeeel banget. Oh. Jangan lupa juga bahwa saya nggak pernah nonton film-film Dono-Kasino-Indro. Juga pas ada serial Beverly Hills tayang. Atau pas ada serial Gone with the Wind. Bener-bener terlarang karena saya masih piyik banget waktu itu.

Ketika kelas 3 SMP, di bagian akhir semester genap, ada materi reproduksi pada manusia di pelajaran Biologi. Di buku pelajaran diperlihatkan penampang alat kelamin perempuan dan laki-laki berikut keterangan bagian-bagiannya. Nah, di sana disisipi nasihat oleh guru Biologi kami. Nasihat yang saya masih ingat sampai detik ini adalah, "gunakan alat-alat ini (sambil nunjuk ke gambar penampang itu) sebijaksana mungkin. Pastikan kalian nggak merusak masa depan kalian hanya karena mencoba-coba. Sekali mencoba lalu `terpeleset`maka hidup kalian berubah selamanya dan hilanglah masa muda kalian."

Seperti biasa sih, ada yang nyeletuk, "saya mah dipake buat pipis aja, kok, Pak..." terus ya gitu, deh, dhueeeeeeerrrrr! Seisi kelas geger.

Begitu masuk SMA pun sama aja ternyata. Pelajaran Biologi di kelas 1 malah lebih jelas gambar penampang di buku pelajarannya. Posisi lagi coitus bahkan yang diperlihatkan di buku. Lagi-lagi, guru Biologi yang mengajar kami saat itu pun bilang bahwa pelajaran ini bukan panduan untuk melakukan hubungan seks saat itu juga, melainkan dengan tahu hal ini, kami jadi lebih bijaksana untuk tidak mencobanya sebelum waktunya.

Sounds easy, huh?

Mungkin karena saya punya ibu yang bener-bener strict, maka sayapun nggak pernah coba-coba buat baca-baca novel-novel beradegan panas. Nggak punya penyalur bukunya juga, sih. Hahaha. Waktu saya SMA, kuliah, temen-temen saya anak masjid semua. Jadi, pas saya mau beli buku Supernova ~ Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh ~ temen saya bilang, "kalo mau baca, pinjam punya saya aja, Kak. NR itu."

Tapi karena saya bandel, saya beli juga itu buku. Terus setelah saya baca sendiri, saya ngerti kenapa dia sebut buku itu NR.

See?

Saya dilingkupi teman-teman yang soleh-solehah plus orangtua yang cukup strict, meski saya sempet ngebandel *sering pulang malem sih tapi bukan untuk dugem, kok, seringnya pulang ngajar tapi maen dulu ke mana gitu terus ga dapet angkot jadi jalan kaki sampai rumah*, alhamdulillaah, saya nggak sampai nyoba untuk melakukan seks sebelum saya menikah. Saya masih percaya sama pentingnya menjaga keperawanan, sih, kebetulan. Heuheu. Kan asik kalo bisa menghadiahkan keperawanan buat seseorang yang bener-bener berhak dan dia adalah orang yang sah, baik secara agama maupun negara.*tsaaaaah

Yang jelas, saat itu kami bahkan menghindari tatap mata dengan lawan jenis, pegangan tangan apalagi pelukan. Widih... kalo keterusan kan gimana? Gitu aja sih yang muncul di benak saya dan teman-teman ketika itu.

Jadi, pas baca cerita teman dokter saya di atas, saya agak merinding dan parno. Meski saya tahu, banyak dari teman saya yang sudah mulai mencoba secelup dua celup pas mereka masih sekolah dulu. Yang jelas, yang membuat saya benar-benar berusaha tidak melakukan seks sebelum menikah adalah ekspresi wajah seorang teman akrab saya yang menyesali hilangnya keperawanannya. Pas SMA, dia pacaran dengan seseorang. Baru tiga hari pacaran udah ada bekas cupang di lehernya dan keliatan oleh kami semua. Yang ngenesnya, ketika dia udah berkali-kali berhubungan seks dengan pacarnya, lalu pacarnya mutusin dia dan jalan dengan cewek lain. Teman saya sempat depresi dan berkali-kali mencoba bunuh diri, karena tiap dia deket ama cowok lain, cuma mau berhubungan badan aja sama dia. Udahnya dia disia-siain gitu... :(

Saya tahu, gairah dan libido anak muda itu kadang tidak terkendali. Tidak terkendali bukan berarti nggak bisa dialihkan, kan? Dan emang nggak semua anak muda mau ngedengerin "bahaya"nya seks di luar nikah. Saya nggak tahu apakah sex education itu hanya tanggung jawab orangtua atau guru di sekolah. Tapi menurut saya, seperti yang dibilang teman dokter saya tadi, perlu banget adanya pendidikan mengenai safe sex.

Semoga ke depannya blog CG ini bisa berbagi informasi mengenai safe sex untuk membantu para orangtua atau anak-anak muda yang perlu informasi ini. Minimal mencegah terjadinya kehamilan di luar nikah atau bahkan penyebaran penyakit kelamin...

Sekian dan terima kasih. Saya lemparkan informasi safe sex pada yang lebih tau... *lirik semua member CG* Hahaha...

So... pepatah "You Never Know till You Have Tried" untuk perkara seks sebelum nikah itu yay or nay?

Friday, March 21, 2014

Marriageable - Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Kipas: Nggak ada kipas rontok, kok. Soalnya emang bukan buku kipas :D
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!
Mau lihat sinopsis dan review saya versi serius? Silakan baca di blog buku saya aja. Kenapa saya posting di CG sini? Ada salah satu sudut pandang yang menggelitik saya ketika baca buku ini.

To the point aja, ya *kayak nulis surat*

Saya takjub waktu baca kalimat persetujuan Flory menikah dengan Vadin dengan syarat: "nggak mau have sex."

Oke. Sebenernya saya nggak takjub-takjub amat. Karena, beberapa tahun yang lalu, ada salah seorang teman saya yang menikah tapi nggak mau ML sama suaminya di awal-awal pernikahan. Katakanlah, sampai lebih dari satu tahun pernikahan mereka, dia masih perawan!

Yang bikin saya senang di cerita Marriageable ini, setelah menikah dan hidup serumah, Vadin dan Flory hidup terpisah di kamar yang berbeda. Nggak cuma pisah ranjang tapi pisah kamar. Sounds good untuk sebuah syarat nggak mau have sex.

Saya salut sesalut-salutnya sama Vadin. Sumpah! Ini bikin saya sukaaaaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan bagus banget emang di cerita ini, meski hidup serumah, menikah, nggak mau have sex tapi tinggal dan bobo di kamar terpisah. Jadi, Vadin ga perlu nelen ludah, sakit kepala atau sampe masturbasi nontonin film porno *ga diceritain sih, untungnya, karena Vadin mending main game kek Warcraft gitu ketimbang nonton blue film* kalo dia jadi "naik" gegara partner sekamarnya lagi telentang menantang.

Nah, berbeda dengan temen saya, kalo boleh saya bilang GOBLOK banget, mereka hidup serumah *saya lupa apa mereka masih nebeng mertua atau ngontrak rumah saat itu* yang jelas, mereka tinggal sekamar, bobo di kasur yang sama. Laki-laki straight mana yang sanggup cuma tidur doang di masa bulan madu sementara di sebelahnya ada someone-he-married-to yang bisa ditelanjangin, ditindihin kapan aja semau dia? Karena emang udah haknya, kan? Aduh, kok, bahasa saya kasar begini, ya... Abis tadinya mau nulis diuhuk-uhuk-in, emangnya batuk? Ya digamblangin deh. Someone-he-married-to yang bisa diajak bersetubuh kapan aja sesuai aturan *obat keleeuus*.

Waktu itu, saya belum menikah. Baru putus ama mantan pacar dan lagi deket sama sahabat yang jadi suami saya. Namun, sejak saya SMA, saya tahu bahwa menikah itu identik dengan have sex sebagai pemenuhan kebutuhan biologis yang sah baik secara agama mau pun secara kenegaraan. Di buku pelajaran Biologi kelas 1 saya malah ada ilustrasi saat Mr. P sedang penetrasi ke Miss V. Saat itu, emang yang kebayang linu. Pertanyaan yang selalu menggantung sejak melihat ilustrasi itu adalah: "sakit, nggak, ya, dimasukin benda kek gitu?"

Tapi, saya nggak pernah nanya ke siapa-siapa, bahkan ke ibu saya sendiri. Kenapa? Saya malu. Pasti ditabok. Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai nemu literatur-literatur *thanks to adult magazine*, yang sering saya baca bagian tips seks-nya. Bukan saya maniak seks. Tapi, someday, kalo saya sudah waktunya melakukan hubungan seks, saya harus tahu kenapa orang suka melakukannya, kenapa harus melakukannya atau kayak apa rasanya. Karena, dengan ilustrasi "ilmiah" di buku pelajaran Biologi saya dulu, bertahun-tahun di kepala saya kan pertanyaannya cuma satu: "sakit ga?"

Dan alasan itu juga yang menjadi ketakutan teman saya yang nggak mau have sex sampai lebih dari setahun pernikahannya. Dia sering dengar entah dari siapa aja, pokoknya semua bilang, "seks di malam pertama itu sakit banget." Dan dia ketakutan banget.

Saya sampai iseng nanya, "terus, suamimu ngapain kalo dia lagi pengen ML sama kamu?"
Temen saya kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut saya. "Kok, kamu berani nanya gitu? Kalimatmu..."
Saya jawab, "kita udah dewasa. Saya juga udah masuk usia boleh menikah. Kenapa saya ga boleh nanya kayak gitu? Kenapa tabu buat saya nyebut kata ML? Setahu saya, ML dengan suami itu kan sama dengan melayaninya makan, nyediain baju, dll. Masuknya ibadah, tauk!"
Dia cuma jawab, "katanya sakit..."
Saya bilang, "terus, kalo katanya sakit, kenapa bintang film porno doyan main film adegan seks? Konon, katanya, mereka malah menikmati. Coba, deh, kamu nonton film porno. Satu aja. Kali aja pengen nyoba beneran."

Saya tahu, saran saya ngehe banget. Dia langsung menghajar saya pake bantal.

Masalahnya, saya pernah nonton adegan film salah satu dokumentasi ensiklopedia tentang making love, saya sama suami jadi horny kok. Terus bisa ditebak kelanjutannya gimana. Padahal di film itu banyak narasi yang beneran nggak perlu tampil *yah, namanya juga film dokumenter*. Bukan kayak film-film porno yang suaranya cuma "ah", "uh", "yes", dll gitu. Entah kalo kami berdua nonton film-film yang suaranya cuma "ah", "uh", "yes", dll gitu. Mungkin lebih bisa ditebak lagi kelanjutannya gimana :P

Intinya, kalo ada dua manusia, laki perempuan, berada dalam jarak sangat dekat dan keduanya saling punya ketertarikan, rasanya aneh banget kalo kemudian nggak terjadi apa-apa. Apalagi kalo statusnya udah halal, sah. Nah, waktu itu saya sempat iseng nanya ke sahabat saya yang kemudian jadi suami, "Kang, kalo kita menikah terus saya nggak mau ML dulu sama Kakang karena takut sakit, *sambil nyeritain kisah teman kami itu*, gimana?"

Mau tau jawaban beliau apa?

"Pulangin aja"

Nah, lho!

Apakah kalian penasaran dengan kelanjutan teman saya itu? Yah, saya nggak tau apa yang menggerakkannya akhirnya mau ML sama suaminya, karena yang jelas, anak mereka sekarang empat. Dua di antaranya kembar. Keempatnya cowok semua. Hihihi...
Pengen, sih, ngeledek, pas dia hamil anak pertama, "wah, gimana caranya hamil? Kan kamu ga ML?" Tapi waktu itu saya ga punya kesempatan buat ngeledek. Heuheu...
Pun pas kehamilan ketiganya yang kembar itu, rasanya pengen banget ngeledek, "doooo... sekarang udah doyan, yaaa..." tapi kok, sounds nyinyir banget, yaaaa.... #plak

Apakah kalian penasaran dengan Vadin dan Flory? Ya, mereka ML, kok, akhirnya, karena ga sengaja. Vadin ga sengaja ngeliat Flory bugil di kamarnya sehabis mandi. Terus abis itu, setelah Vadin keluar kamar karena diusir Flory, malah si Flory mancing-mancing ngajak ciuman sama Vadin dan akhirnya kejadian deh tuh have sex.

Nah, maafkan saya kalo review saya kali ini penuh dengan sop iler. Hihihi....

Friday, January 3, 2014

Bisa "Dibentuk"

Hari ini, saya dapat foto iklan ini dari teman saya di sebuah sosmed.


Saya jadi teringat sewaktu saya masih kuliah dulu. Saya main ke Bekasi, tempat tinggal salah satu adik ayah saya. Sebut aja tante ya. Emang tante kan? :P

Waktu itu, tante saya sedang survey tempat-tempat khitan/sunat yang sesuai kebutuhan adik sepupu saya. Maksudnya, tante saya pengennya tempat khitan/sunat itu yang bersih, trus kira-kira sembuhnya cepet. Mungkin, tante saya ga pengen anaknya menderita karena sakit pasca khitan kali, ya. Saya sih ga tau rasanya abis dikhitan itu gimana. Yang jelas, suami saya bilang, dia malah seneng waktu dikhitan. Katanya jadi banyak angpao, bisa beli mainan, makanan enak, dan lain-lain.

Tante saya cerita, "dokternya sempet nanya. Ibu mau anaknya dikhitan model apa? Mawar? Torpedo?"

Tante saya shock. "Hah? Ada modelnya?"

Dokternya santei, bilang, "iya. Ada modelnya, kok, Bu. Macam-macam."

Tante saya sambil merinding nanya lagi, kebayang keknya, kalo alat kelamin diukir-ukir. Lo pikir itu kayu, hah? "Efeknya apa kalo dibikin macam-macam model?"

Dokternya jawab, "kelak kalo sudah besar, istrinya akan senang."

Saya waktu itu masih polos. Namanya juga masih kuliah. Pergaulan saya cuma sebatas kertas, mesin tik, diktat, OHP, dan komputer. Atau printer yang ngadat. Jadi, belum kepikir ke anatomi tubuh pria. Waktu itu jelas ga ngerti maksud "senang" gimana, yang berhubungan dengan model-model khitan itu. Tapi sekarang juga, meski udah punya dua anak, tetep polos, kok. Alias ga ngerti, kek apa model mawar, jengger ayam, shock breaker, kuncir kuda, atau torpedo. Dan apa efeknya kalo alat kelamin sudah dikhitan dengan model seperti yang disebutkan itu. 

Sekarang? Saya ga mau ngebayangin hasil khitan dengan model bunga mawar. Apalagi jengger ayam. Trus, kalo model shock breaker, bakalan tuing-tuing gitu? Dan kalo torpedo, bakalan meluncur dan membom di suatu tempat? Oh. No.