Friday, October 17, 2014

Hari Kelabu - Enny Arrow


Selamat siang!!

Saya tahu pasti sudah pada kangen dengan post baru di blog ini. Maaf yaa, karena kesibukan kami (halah) jadi ngga sempat update blog. Padahal pinginnya sih sering berbagi gitu dengan para pembaca kami yang setia *sungkem

Hari ini saya mau update lagi tentang Enny Arrow, yang judulnya "Hari Kelabu". Ini menceritakan pasangan suami isteri, Bahri dan Nita yang memiliki masalah dalam kemesraan ranjang mereka. Si Bahri ini "letoy", kau tahu, "barang"nya tidak mampu menunjukkan keperkasaannya sebagai Pria. Ini membuat keduanya stres, sampai kemudian Nita menyuruh suaminya itu mencari obat yang meujarab bagi penyakitnya. 

Terus kalau nggak sembuh juga? katanya Bahri sih, Si Nita boleh berbuat semaunya. Terserah deh. Gitu.

Sampai suatu hari Nita bertemu Fachdat, yang berakhir dengan perselingkuhan. Si Fachdat ini pemain film biru, sampai sudah 43 judul dimainkannya. Yah, istilahnya sudah ahli gitu deh..

Terus setelah Si Nita pulang dari 'serong'nya sama si Fachdat, di rumah ternyata ada Bahri yang sudah mendapat obat kuat dan...sukses!!

Sayangnya... Si Bahri mencium ada yang tidak beres dengan kelakuan istrinya.
Terus gimana? Apa nanti Nita ketahuan kalau dia berselingkuh? Eng...yagitu deh..

Seperti buku EA sebelumnya yang pernah saya review, di sini pun dia secara tidak langsung menyisipkan pesan moral bagi pembacanya. Yaitu apa? Jangan selingkuh! Iya sih kalau udah nikah mah godaan bisa datang dari mana saja, apalagi dengan fisik suami yang tak sempurna. Padahal Si Bahri ini sayang banget sama Nita loh, bayangin aja kalau nanti dia tahu istrinya selingkuh, apa nggak kecewa?
Ini berlaku juga buat laki laki sih, enak aja mau buang isinya sembarangan, meski tekonya tetep pulang ke rumah. Yakalik kita kita ini gelas, gitu? *mulai ngelantur

Cerita ini nggak banyak humornya sih, kecuali pada bagian 24 cm yang bikin aku cekikikan XD Begitulah cerita singkat saya hari ini, kapan kapan saya bikin lagi ya. *ngubek timbunan EA dulu tapi. XD




Monday, October 13, 2014

Afternoon Delight by Anne Calhoun



Judul Buku : Afternoon Delight

Penulis : Anne Calhoun

Halaman : 168

Penerbit : Intermix


Halo halooo semua fans Cakrawala Gelinjang, maaf jika blog ini terkesan tidak terurus. Mungkin kalian sudah sangat merindukan kami (atau ngga, wakaka :P). So, Ren disini, ingin berbagi buku erotica yang kemaren barusan dia baca :D. Sebenarnya sih kalau pake standarnya Ren, ngga yang wow, wow, pake wow sih buku yang barusan dia baca. Tapi karena erotica yang satu ini beda sama erotica yang sering beredar saat ini, maka Ren ingin berbagi pengalamannya membaca Afternoon Delight ini :D


Sudah ah nulis dalam POV 3 nya :v

Saya sudah lama ngga baca erotica yang bener - bener erotica, dalam artian banyak hal yang tabu, adegan ranjang yang bertebaran di mana - mana dan yang bikin AC pun tak sanggup mendinginkan desiran hati gara - gara mendamba setelah membaca #halah :v. Erotica terakhir yang saya baca ada 2, yang satu karya Tina Folsom judulnya Touch of a Greek. Tapi dipikir - pikir, walau heronya manwhore, aslinya ga hot - hot banget sih. Jadi ngga usah ditaruh disini. Yang kedua buku dengan tema daddy kesukaan President CG yaitu Aki (yang ini murni menuduh) dengan judul Owning Her Innocence. Yang judul terakhir nanti saya bahas deh kalau ingat ceritanya atau lagi mood :P.

Afternoon Delight adalah karya terbaru Anne Calhoun. Nah, tante Anne ini sudah tersohor banget di dunia erotica jauh sebelum FSoG menyerang dunia per-romansaan dan per-erotikaan. Salah satu judul beliau yang katanya sih, kalau kamu fans berat genre ini musti baca, adalah Liberating Lacey yang diterbitkan sama Ellora Cave. Kamu fans erotica dan tahu Ellora Cave? Bagus, bagus. Anda berada di tempat yang tepat #tepuktangan. Saya request Afternoon Delight di NetGalley, selain karena lagi pengen baca erotica, juga penasaran sama tulisan tante Anne ini.

Dan abis baca Afternoon Delight, separuh di kantor (dan mesti pasang headset biar ngga keganggu pas baca adegan hotnya, whoakakak) dan sisanya di rumah, ternyata buku ini BAGUS! :D

Buku ini berkisah tentang Tim Cannon yang seorang paramedis. Tim ini orang yang berprinsip "hidup itu saat ini", yah mirip - mirip iklan rokok itu gitu :v. Dia sama sekali ngga mikir tentang masa depan, dan tidak mau planning buat masa depan. Pokoknya jalanin hidup deh! Suatu saat di pelataran Big Apple City aka NewYork, seorang koki bernama Sarah menawari sup buatannya kepada Tim. Yah, Sarah sama Tim ini ga kenal satu sama lain, tapi siapa sih cowok yang ngga suka dihampiri cewe cantik, apalagi cewek itu nawarin masakan buatannya? Sarah yang pemilih truk makanan Symbowl ini pengen dapat feedback dari Tim untuk supnya, dan ga butuh waktu lama buat mereka untuk dekat.

Keesokan harinya Sarah dan Tim ketemu lagi, dan kali ini mereka ngelakuin hal yang cukup nekad, yaitu having sex in the afternoon. Yep, mereka berdua ini emang insta-lust, dan lucunya walau saya ngga suka sama tema cerita yang beginian, saya malah menikmati kisah mereka berdua. Why? Karena walau hubungan sex pertama mereka seperti hubungan no-string-attached, tapi saya suka banget sama Sarah yang percaya diri dengan seksualitasnya. Duh makin jarang lho tokoh cewek kayak gini! 

Selanjutnya Sarah dan Tim bikin taruhan, siapa yang paling tahan untuk ga masturbasi sampai mereka ketemu lagi. Tim yang terpesona sama pribadi Sarah ga bisa nahan diri, dan akibatnya dia kalah dong. Adegan selanjutnya saat mereka dinner, dimana Sarah masakin sup dan dessert buat Tim bikin saya deg - degan ga karuan plus nahan iler. Gimana ngga nahan iler, karena deskripsi tante Anne buat masakan yang dibikin Sarah itu bikin perut saya krucuk - krucuk ngga karuan dan membayangkan kue penuh coklat yang hmmm..yummy! Setelahnya dilanjut adegan ranjang yang bikin saya liat kanan kiri takut ketauan baca yang wow, wow wow dong X)).

Walau gitu isi buku ini ngga cuma having sex doang kok. Karena hubungan Tim sama Sarah ini hanya friend with benefit dan Tim sendiri juga punya isu komitmen sementara Sarahnya sendiri sedikit ada rasa sama Tim. Sukanya sih, Sarah ini ngga memaksa Tim. Tapi dia sakit hati juga saat Tim malah jodohin Sarah sama kaptennya Tim, walau tentu saja dia juga ngga menunjukkan itu. Huff, dewasa banget pokoknya Sarah ini :D. Suka saya sama dia, dan pengen temenan sama dia. Trus Tim ini juga tipikal hero yang memang beneran dewasa. Dia emang punya issue komitmen tapi ga sampai yang tahap menyebalkan. Bahkan apa yang dilakukannya buat menangin hati Sarah bikin saya meltiiiing.

Jadi, kalau teman - teman pengunjung Cakrawala Gelinjang suka baca erotica yang dibumbui dengan masakan (iya, karena Sarahnya kan koki), sex scenes yang bikin kipas - kipas ngga karuan, dan juga ada ceritanya, ditambah karakter yang semaunya bertindak sesuai umur (alias udah dewasa), Afternoon Delight ini mesti baca deh :D


Cooking was a bet on the future, on shared moments with family, friends, a lover. Sarah cooked to carve time now, and in the future, to make secret shared moments. It was different from bringing over takeout, too. Cooking mean you thought about the food and the person more than dialing a phone number and handing over a credit card. Takeout had its place, but cooking... cooking built a future, one meal at a time

Monday, July 7, 2014

Tentang Burung Yang Tertidur Pulas


Judul Buku : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis : Eka Kurniawan

Halaman : 252

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang.

Blurb yang ada di belakang buku bersampul unyu ini memang membuat penasaran. Alkisah Tokek mengajak sahabatnya Ajo Kawir untuk melihat sesuatu yang lebih dahsyat daripada dada istri ketiga Pak Kepala Desa. Keduanya mau mengintip Rona Merah, seorang perempuan gila, sedang mandi. Namun malam itu ada yang berbeda. Dua orang polisi datang ke rumah Rona Merah, memandikan perempuan itu, kemudian menelentangkannya di atas meja. Ajo Kawir dan Tokek yang mengintip lewat lubang di  jendela terkejut. Lebih terkejut lagi, ketika Ajo Kawir tertangkap basah oleh polisi itu. Ajo Kawir dipaksa menyaksikan kedua polisi itu memerkosa Rona Merah. Sejak saat itu burung Ajo Kawir tertidur. Dia tidak bisa ereksi.

“Suatu ketika, burungmu akan berdiri lagi. Percaya saja. Lagipula, kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?”

Segala cara telah  dicoba oleh Ajo Kawir untuk membangunkan burungnya, mulai dari diusap, diisap, digosok cabe rawit, disengat lebah, sampai baca stensilan. Tokek yang merasa bersalah menghibur sahabatnya meyakinkannya bahwa tidak masalah burungnya tidur karena toh belum dipakai juga. Ajo Kawir pun mengiyakan. Sebagai pelampiasan dia jadi doyan berkelahi. Ada waktu dimana dia harus memukul orang. Hingga suatu waktu, Paman Gembul datang menawarkan pekerjaan untuk membunuh seseorang bernama Si Macan. Diiming-imingi imbalan uang Ajo Kawir menerima tawaran itu. Lagipula uangnya akan dia pakai untuk melamar Iteung, pacarnya.

Awalnya Ajo Kawir tidak percaya diri ketika Iteung menyatakan cintanya pada Ajo Kawir. Apalagi kalau bukan masalah burung. Tapi ketika Iteung mengatakan bahwa dia cukup bahagia dengan jari-jari tangan Ajo Kawir, maka dilangsungkanlah pernikahan mereka. Masalah baru muncul ketika Iteung hamil. Jelas saja itu bukan ulah burungnya Ajo Kawir. Ajo Kawir terluka, dia pergi meninggalkan Iteung yang ternyata mengkhianatinya.

Brutal dan vulgar, tapi jauh dari picisan. Itulah kesimpulan saya setelah menamatkan buku ini. Dari awal hingga akhir buku ini semuanya terasa blak-blakan. Eka Kurniawan memanjakan pembaca dengan kalimatnya yang lugas sehingga memudahkan pembaca membentuk imajinasi tentang isi buku ini. Eka tidak menggunakan kata "vagina" atau "penis" untuk menyebutkan alat kelamin, tapi memakai kata "memek" dan "burung". Ejakulasi diistilahkan dengan burung yang muntah-muntah karena masuk angin. Ada pula istilah "pelbur" -- nempel langsung nyembur. Meski "transparan", saya ga merasa memerlukan kipas untuk membaca buku ini.

Satu bab berisi paragraf-paragraf pendek yang seakan-akan tumpang tindih alur waktunya. Kesemuanya menceritakan tentang upaya membangunkan burung Ajo Kawir. Pengkhiantan Iteung adalah titik balik dimana akhirnya Ajo Kawir mengalah, dan mengikuti diamnya si burung. Ajo Kawir bahkan sering berkonsultasi dengan burungnya, dan menjadikannya lebih bijak,

“Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?” tanya Mono Ompong penasaran, sekali waktu
“Kehidupan manusia ini hanyalaj impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.” Si Tokek akan mengatakan, itu filsafat.

Yang menarik dari isi buku ini selain kisah yang tidak biasa adalah penggunaan nama tokoh-tokoh di dalamnya. Selain Ajo Kawir, Tokek dan Iteung ada Iwan Angsa (bapaknya Tokek yang menganggap Ajo Kawir seperti anaknya sendiri), Paman Gembul (orang yang punya pengaruh penting di jaman Orde Baru), Mono Ompong (kenek Ajo Kawir), si Macan (jagoan yang dicari-cari oleh Ajo Kawir), dan masih banyak lagi. Semua punya peranan penting dalam perjalanan hidup Ajo Kawir. Sepertinya ini juga menjadi ciri novel karya Eka dimana setiap tokohnya tidak akan tampil semata-mata hanya sebagai pajangan.

Sama halnya dengan buku ‘Cantik Itu Luka” yang sarat konten dewasa, buku ini juga demikian. Bahkan kadarnya lebih banyak. Jelas saja, yang dibahas juga tentang alat kelamin dan kemampuannya. Untungnya selain memberikan label novel dewasa, penerbit juga menambahkan logo 21+ di sampul belakang buku ini. Membaca buku ini memang perlu kedalaman berpikir layaknya orang dewasa.

Sampai akhir cerita saya bertanya-tanya, mengapa burung Ajo Kawir begitu penting sampai menjadi topik utama sebuah novel? Saya akhirnya mereka-reka sendiri. Sesuatu yang vital seperti alat kelamin masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Tapi siapa sangka hal itu bisa memicu banyak peristiwa besar lainnya. Ketika si burung memutuskan untuk tertidur, tidak ada upaya yang bisa dilakukan untuk membangunkannya, kecuali atas kehendak si burung itu sendiri. Fase diam juga sesekali diperlukan agar kebijaksanaan bisa terbentuk. Mungkin dalam diam, ada banyak waktu untuk merenung dan berpikir panjang, sehingga lebih banyak bersabar. Lantas apakah burung Ajo Kawir bisa bangun?
“Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau bersabar menungguku bangun, Tuan. Bolehkah sementara menunggu aku tidur lagi?“
*gubrak *

Tuesday, June 24, 2014

"You Never Know till You Have Tried" Yay or Nay?

Jadi, seperti biasa, kami-kami di Spank Club itu setiap harinya ngobrol akrab dengan topik keseharian mulai dari topik buku, ngegosipin orang, sampe yang terbaru beberapa waktu lalu ada yang heboh kirim-kirim foto C-String berikut foto model orang yang pakenya dan tutorial cara pakenya. *kalo ga salah, sih*

Tenang... Saya bukan mau bahas soal C-String karena saya kurang berminat pakai C-String. Hahaha...

Yang jelas, tadi pagi kami sempat heboh mengenai kelakuan remaja masa kini di Spank Club. 

Jadi, ada seorang rekan dokter curhat mengenai pengalamannya kemarin di rumah sakit tempatnya bertugas. Ini saya copas dari ceritanya, ya... nggak ada yang saya kurangi maupun saya tambahkan.

`'Kelucuan' di UGD kemarin:

Jam 1 siang datang cewek 19 thn diantar bapaknya. SI anak ini 2 bulan lalu dirawat krn sakit maag. Dan kata si bapak, sejak pulang dirawat kok ga sembuh2. Anaknya masih suka muntah, sekarang ngeluh perut kiri bawah sakit dan jadi buncit.

Yaaa... aku bisa ngeliatlah kalo itu buncitnya bukan buncit biasa. Jadi aku suruh testpack. Dan bener... hasilnya positif.

Si anak langsung menyangkal. Dia bilang dia masih perawan. Berani sumpah pula. Setelah dibujuk dan didesak , akhirnya si anak ngaku kalo pernah intim sama pacarnya. Ngomongnya gini: "Tapi cuma masuk ujungnya aja. Kata dia gak bakal hamil kok kalo cuma ujungnya"

Lalu bapak dan anak itu pun pulang.

Jam 10 malam, waktu shiftku udah mo kelar dan aku siap2 pulang, eeeh... cewek tadi datang lagi bareng pacarnya.

Si pacar gak percaya kalo cuma masuk ujungnya aja bisa hamil. Jadi minta dijelasin gimana bisa hamil kalo cuma nempel.

Trus... udahnya si cowok ngaku, "sebenernya gak cuma ujung, dok. Ya sempet kepleset sih. Kecelup satu dua kali. Tapi sempat saya tarik kok."

Boooo.... kepleset dan kecelup kata dese.

Akhirnyaaaaaaaaaaa... aku ended up jelasin tentang resikonya kecelup, telat angkat, dan safe sex. Juga sex during pregnancy.

Dan semua kuliah itu baru selese jam... 12 malam`

Kalo Alvina sih langsung memutuskan nggak jadi nyeduh teh, karena mendadak ilfeel. Hahah. Soalnya kan, teh yang mau diseduhnya teh kantong. Pasti ada adegan celup *heh

Saya jadi inget pepatah "You Never Know till You Have Tried". Tapi kayaknya untuk seks di luar nikah, apalagi masih pada sekolah, belum punya penghasilan sendiri, menurut saya pepatah ini nggak patut dicoba, deh. Menurut saya, lho.

Saya jadi ingat, semasa saya masih sekolah dulu, dari menjelang masa pubertas, ibu saya udah mulai galak soal hubungan antara perempuan dan laki-laki. Mungkin ibu saya es krim ekstrim banget, semua temen cowok yang main ke rumah pasti diinterogasi sampai rasanya maluuuuu banget. Tapi kemudian saya paham. Ibu saya khawatir saya bakalan terjerumus ke suatu lembah yang mungkin akan sulit buat saya bangkit lagi *iya tulisan saya ini kok muter-muter gini, yak. Haha. Tapi kurang lebih maksudnya ibu saya takut saya tekdung*. Soalnya, pas saya beranjak remaja, beberapa tetangga di lingkungan RW saya banyak yang kecolongan a.k.a mbak-mbak abegong yang masih SMP SMA itu kedapatan hamil. Gimana ibu saya nggak parno. Yang menyebabkannya menjadi super duper protektif terhadap saya.

Maka sex education pun dimulai ketika saya mulai mendapatkan menstruasi pertama saya. Ibu saya bilang, "no pacaran sampai sudah umur 17 tahun." Jadi, kalo ada temen cowok main ke rumah, ibu saya baweeeeeeeeeel banget. Oh. Jangan lupa juga bahwa saya nggak pernah nonton film-film Dono-Kasino-Indro. Juga pas ada serial Beverly Hills tayang. Atau pas ada serial Gone with the Wind. Bener-bener terlarang karena saya masih piyik banget waktu itu.

Ketika kelas 3 SMP, di bagian akhir semester genap, ada materi reproduksi pada manusia di pelajaran Biologi. Di buku pelajaran diperlihatkan penampang alat kelamin perempuan dan laki-laki berikut keterangan bagian-bagiannya. Nah, di sana disisipi nasihat oleh guru Biologi kami. Nasihat yang saya masih ingat sampai detik ini adalah, "gunakan alat-alat ini (sambil nunjuk ke gambar penampang itu) sebijaksana mungkin. Pastikan kalian nggak merusak masa depan kalian hanya karena mencoba-coba. Sekali mencoba lalu `terpeleset`maka hidup kalian berubah selamanya dan hilanglah masa muda kalian."

Seperti biasa sih, ada yang nyeletuk, "saya mah dipake buat pipis aja, kok, Pak..." terus ya gitu, deh, dhueeeeeeerrrrr! Seisi kelas geger.

Begitu masuk SMA pun sama aja ternyata. Pelajaran Biologi di kelas 1 malah lebih jelas gambar penampang di buku pelajarannya. Posisi lagi coitus bahkan yang diperlihatkan di buku. Lagi-lagi, guru Biologi yang mengajar kami saat itu pun bilang bahwa pelajaran ini bukan panduan untuk melakukan hubungan seks saat itu juga, melainkan dengan tahu hal ini, kami jadi lebih bijaksana untuk tidak mencobanya sebelum waktunya.

Sounds easy, huh?

Mungkin karena saya punya ibu yang bener-bener strict, maka sayapun nggak pernah coba-coba buat baca-baca novel-novel beradegan panas. Nggak punya penyalur bukunya juga, sih. Hahaha. Waktu saya SMA, kuliah, temen-temen saya anak masjid semua. Jadi, pas saya mau beli buku Supernova ~ Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh ~ temen saya bilang, "kalo mau baca, pinjam punya saya aja, Kak. NR itu."

Tapi karena saya bandel, saya beli juga itu buku. Terus setelah saya baca sendiri, saya ngerti kenapa dia sebut buku itu NR.

See?

Saya dilingkupi teman-teman yang soleh-solehah plus orangtua yang cukup strict, meski saya sempet ngebandel *sering pulang malem sih tapi bukan untuk dugem, kok, seringnya pulang ngajar tapi maen dulu ke mana gitu terus ga dapet angkot jadi jalan kaki sampai rumah*, alhamdulillaah, saya nggak sampai nyoba untuk melakukan seks sebelum saya menikah. Saya masih percaya sama pentingnya menjaga keperawanan, sih, kebetulan. Heuheu. Kan asik kalo bisa menghadiahkan keperawanan buat seseorang yang bener-bener berhak dan dia adalah orang yang sah, baik secara agama maupun negara.*tsaaaaah

Yang jelas, saat itu kami bahkan menghindari tatap mata dengan lawan jenis, pegangan tangan apalagi pelukan. Widih... kalo keterusan kan gimana? Gitu aja sih yang muncul di benak saya dan teman-teman ketika itu.

Jadi, pas baca cerita teman dokter saya di atas, saya agak merinding dan parno. Meski saya tahu, banyak dari teman saya yang sudah mulai mencoba secelup dua celup pas mereka masih sekolah dulu. Yang jelas, yang membuat saya benar-benar berusaha tidak melakukan seks sebelum menikah adalah ekspresi wajah seorang teman akrab saya yang menyesali hilangnya keperawanannya. Pas SMA, dia pacaran dengan seseorang. Baru tiga hari pacaran udah ada bekas cupang di lehernya dan keliatan oleh kami semua. Yang ngenesnya, ketika dia udah berkali-kali berhubungan seks dengan pacarnya, lalu pacarnya mutusin dia dan jalan dengan cewek lain. Teman saya sempat depresi dan berkali-kali mencoba bunuh diri, karena tiap dia deket ama cowok lain, cuma mau berhubungan badan aja sama dia. Udahnya dia disia-siain gitu... :(

Saya tahu, gairah dan libido anak muda itu kadang tidak terkendali. Tidak terkendali bukan berarti nggak bisa dialihkan, kan? Dan emang nggak semua anak muda mau ngedengerin "bahaya"nya seks di luar nikah. Saya nggak tahu apakah sex education itu hanya tanggung jawab orangtua atau guru di sekolah. Tapi menurut saya, seperti yang dibilang teman dokter saya tadi, perlu banget adanya pendidikan mengenai safe sex.

Semoga ke depannya blog CG ini bisa berbagi informasi mengenai safe sex untuk membantu para orangtua atau anak-anak muda yang perlu informasi ini. Minimal mencegah terjadinya kehamilan di luar nikah atau bahkan penyebaran penyakit kelamin...

Sekian dan terima kasih. Saya lemparkan informasi safe sex pada yang lebih tau... *lirik semua member CG* Hahaha...

So... pepatah "You Never Know till You Have Tried" untuk perkara seks sebelum nikah itu yay or nay?

Friday, March 21, 2014

Marriageable - Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Kipas: Nggak ada kipas rontok, kok. Soalnya emang bukan buku kipas :D
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!
Mau lihat sinopsis dan review saya versi serius? Silakan baca di blog buku saya aja. Kenapa saya posting di CG sini? Ada salah satu sudut pandang yang menggelitik saya ketika baca buku ini.

To the point aja, ya *kayak nulis surat*

Saya takjub waktu baca kalimat persetujuan Flory menikah dengan Vadin dengan syarat: "nggak mau have sex."

Oke. Sebenernya saya nggak takjub-takjub amat. Karena, beberapa tahun yang lalu, ada salah seorang teman saya yang menikah tapi nggak mau ML sama suaminya di awal-awal pernikahan. Katakanlah, sampai lebih dari satu tahun pernikahan mereka, dia masih perawan!

Yang bikin saya senang di cerita Marriageable ini, setelah menikah dan hidup serumah, Vadin dan Flory hidup terpisah di kamar yang berbeda. Nggak cuma pisah ranjang tapi pisah kamar. Sounds good untuk sebuah syarat nggak mau have sex.

Saya salut sesalut-salutnya sama Vadin. Sumpah! Ini bikin saya sukaaaaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan bagus banget emang di cerita ini, meski hidup serumah, menikah, nggak mau have sex tapi tinggal dan bobo di kamar terpisah. Jadi, Vadin ga perlu nelen ludah, sakit kepala atau sampe masturbasi nontonin film porno *ga diceritain sih, untungnya, karena Vadin mending main game kek Warcraft gitu ketimbang nonton blue film* kalo dia jadi "naik" gegara partner sekamarnya lagi telentang menantang.

Nah, berbeda dengan temen saya, kalo boleh saya bilang GOBLOK banget, mereka hidup serumah *saya lupa apa mereka masih nebeng mertua atau ngontrak rumah saat itu* yang jelas, mereka tinggal sekamar, bobo di kasur yang sama. Laki-laki straight mana yang sanggup cuma tidur doang di masa bulan madu sementara di sebelahnya ada someone-he-married-to yang bisa ditelanjangin, ditindihin kapan aja semau dia? Karena emang udah haknya, kan? Aduh, kok, bahasa saya kasar begini, ya... Abis tadinya mau nulis diuhuk-uhuk-in, emangnya batuk? Ya digamblangin deh. Someone-he-married-to yang bisa diajak bersetubuh kapan aja sesuai aturan *obat keleeuus*.

Waktu itu, saya belum menikah. Baru putus ama mantan pacar dan lagi deket sama sahabat yang jadi suami saya. Namun, sejak saya SMA, saya tahu bahwa menikah itu identik dengan have sex sebagai pemenuhan kebutuhan biologis yang sah baik secara agama mau pun secara kenegaraan. Di buku pelajaran Biologi kelas 1 saya malah ada ilustrasi saat Mr. P sedang penetrasi ke Miss V. Saat itu, emang yang kebayang linu. Pertanyaan yang selalu menggantung sejak melihat ilustrasi itu adalah: "sakit, nggak, ya, dimasukin benda kek gitu?"

Tapi, saya nggak pernah nanya ke siapa-siapa, bahkan ke ibu saya sendiri. Kenapa? Saya malu. Pasti ditabok. Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai nemu literatur-literatur *thanks to adult magazine*, yang sering saya baca bagian tips seks-nya. Bukan saya maniak seks. Tapi, someday, kalo saya sudah waktunya melakukan hubungan seks, saya harus tahu kenapa orang suka melakukannya, kenapa harus melakukannya atau kayak apa rasanya. Karena, dengan ilustrasi "ilmiah" di buku pelajaran Biologi saya dulu, bertahun-tahun di kepala saya kan pertanyaannya cuma satu: "sakit ga?"

Dan alasan itu juga yang menjadi ketakutan teman saya yang nggak mau have sex sampai lebih dari setahun pernikahannya. Dia sering dengar entah dari siapa aja, pokoknya semua bilang, "seks di malam pertama itu sakit banget." Dan dia ketakutan banget.

Saya sampai iseng nanya, "terus, suamimu ngapain kalo dia lagi pengen ML sama kamu?"
Temen saya kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut saya. "Kok, kamu berani nanya gitu? Kalimatmu..."
Saya jawab, "kita udah dewasa. Saya juga udah masuk usia boleh menikah. Kenapa saya ga boleh nanya kayak gitu? Kenapa tabu buat saya nyebut kata ML? Setahu saya, ML dengan suami itu kan sama dengan melayaninya makan, nyediain baju, dll. Masuknya ibadah, tauk!"
Dia cuma jawab, "katanya sakit..."
Saya bilang, "terus, kalo katanya sakit, kenapa bintang film porno doyan main film adegan seks? Konon, katanya, mereka malah menikmati. Coba, deh, kamu nonton film porno. Satu aja. Kali aja pengen nyoba beneran."

Saya tahu, saran saya ngehe banget. Dia langsung menghajar saya pake bantal.

Masalahnya, saya pernah nonton adegan film salah satu dokumentasi ensiklopedia tentang making love, saya sama suami jadi horny kok. Terus bisa ditebak kelanjutannya gimana. Padahal di film itu banyak narasi yang beneran nggak perlu tampil *yah, namanya juga film dokumenter*. Bukan kayak film-film porno yang suaranya cuma "ah", "uh", "yes", dll gitu. Entah kalo kami berdua nonton film-film yang suaranya cuma "ah", "uh", "yes", dll gitu. Mungkin lebih bisa ditebak lagi kelanjutannya gimana :P

Intinya, kalo ada dua manusia, laki perempuan, berada dalam jarak sangat dekat dan keduanya saling punya ketertarikan, rasanya aneh banget kalo kemudian nggak terjadi apa-apa. Apalagi kalo statusnya udah halal, sah. Nah, waktu itu saya sempat iseng nanya ke sahabat saya yang kemudian jadi suami, "Kang, kalo kita menikah terus saya nggak mau ML dulu sama Kakang karena takut sakit, *sambil nyeritain kisah teman kami itu*, gimana?"

Mau tau jawaban beliau apa?

"Pulangin aja"

Nah, lho!

Apakah kalian penasaran dengan kelanjutan teman saya itu? Yah, saya nggak tau apa yang menggerakkannya akhirnya mau ML sama suaminya, karena yang jelas, anak mereka sekarang empat. Dua di antaranya kembar. Keempatnya cowok semua. Hihihi...
Pengen, sih, ngeledek, pas dia hamil anak pertama, "wah, gimana caranya hamil? Kan kamu ga ML?" Tapi waktu itu saya ga punya kesempatan buat ngeledek. Heuheu...
Pun pas kehamilan ketiganya yang kembar itu, rasanya pengen banget ngeledek, "doooo... sekarang udah doyan, yaaa..." tapi kok, sounds nyinyir banget, yaaaa.... #plak

Apakah kalian penasaran dengan Vadin dan Flory? Ya, mereka ML, kok, akhirnya, karena ga sengaja. Vadin ga sengaja ngeliat Flory bugil di kamarnya sehabis mandi. Terus abis itu, setelah Vadin keluar kamar karena diusir Flory, malah si Flory mancing-mancing ngajak ciuman sama Vadin dan akhirnya kejadian deh tuh have sex.

Nah, maafkan saya kalo review saya kali ini penuh dengan sop iler. Hihihi....

Friday, March 7, 2014

Fanta C by Sandra Brown


Judul Buku : Fanta C

Penulis : Sandra Brown

Halaman : 256

Penerbit : Fanfare

Suatu hari, di grup WA-nya CG ada pembicaraan mengenai buku yang bisa direkomendasikan untuk pembaca pemula khusus genre "kipas" seperti yang diusung oleh CG ini. Salah satu anggota menyebutkan novel Fanta C dari Sandra Brown. Sebagai penggemar SB, saya segera nyari buku ini. Dan benar... dari paragraf awal sudah harus sedia kipas deh :)

Elizabeth Burke telah menjanda selama dua tahun sejak kematian suaminya dalam sebuah kecelakaan. Saat ini dia hidup bersama dua orang anaknya, Megan (8 tahun) dan Matt (6 tahun). Untuk menghidupi keluarga kecilnya, Elizabeth membuka toko souvenir di sebuah hotel bernama "Fantasy". Sebenarnya nama ini terinspirasi dari plat mobil "Fanta C" pemberian adiknya. Plat mobil yang membuatnya sering dilirik oleh pengendara mobil lainnya.

Selain nama toko dan plat mobilnya, Elizabeth memang seringkali berfantasi "liar". Khayalannya itu ga jauh deh dari adegan "kipas". Terkadang dia membayangkan antara penjaga istal kuda dengan nona majikannya, terkadang antara bajak laut dengan seorang putri bangsawan. Lilah, adiknya, kemudian menyarankan Elizabeth agar menuliskan fantasinya itu menjadi sebuah cerita dan mengirimkannya ke penerbit. Kebetulan sedang ada kontes menulis yang berhadiah uang dengan jumlah lumayan. Elizabeth tertarik, tapi dia malu untuk melakukannya. Baginya fantasi itu hanyalah  untuk dia sendiri saja, dan bukan konsumsi publik. Tapi karena memang butuh uang, Elizabeth pun menuliskan fantasinya dan menminta Lilah mengirimkannya dengan nama samaran.

Di sebelah rumahnya Elizabeth, tinggal seorang pria lajang. Usianya sepertinya lebih tua dari Elizabeth. Megan dan Matt sangat akrab dengan pria yang bernama Thad Randolph ini. Beberapa kali Elizabeth membayangkan dirinya dengan Thad dalam adegan intim. Tapi Elizabeth adalah wanita yang selalu penuh perhitungan dan berhati-hati. Dia tidak mau ada gosip yang beredar tentang dirinya yang seorang janda menggoda pria lajang. Alhasil, seringkali Elizabeth curiga kalau Thad menawarkan bantuan untuknya dan keluarganya.

Namun yang namanya chemistry, kalau sudah muncul antara pria dan wanita, tentu saja sulit dihindari. Suatu waktu, Elizabeth diajak makan malam oleh bos-nya, sementara Thad menawarkan dirinya untuk menjaga anak-anak. Ketika Elizabeth pulang larut malam dari kencannya, dia mendapati Thad masih ada di rumahnya. Thad yang cemburu berat menyerbu masuk ke kamar tidur Elizabeth dan mewujudkan salah satu fantasi liar Elizabeth. Malam itu mereka habiskan berdua memuaskan apa yang selama ini terpendam. Namun ketika keesokan harinya Elizabeth tahu kalau Thad sudah membaca salah satu tulisannya. Elizabeth malu banget, sampai dia bersikap defensif dan memarahi Thad karena telah melanggar privacy-nya.

Elizabeth adalah gambaran wanita pada umumnya. Tentu saja seorang wanita pasti pernah berfantasi "liar" seperti Elizabeth. Hanya saja (lagi-lagi seperti Elizabeth) beberapa orang berusaha memendamnya, menyimpan rapat-rapat dan malu untuk mengakuinya karena takut pada omongan orang lain. Saya menyukai salah satu pernyataan bijak Thad kepada Elizabeth dalam novel ini,
"She is you. She's what you secretly think, how you feel about sexuality, how you feel about love, what you want in bed but would never ask for. Just like the moon, we all have a dark side, a part of us that the world doesn't see. It's in our makeup and is nothing to be ashamed of." 
Saya jadi paham kenapa teman saya itu merekomendasikan novel ini untuk pembaca pemula genre "kipas". Banyak lho yang malu membaca kisah romance yang hot, ada juga yang memberikan pandangan negatif untuk para pembaca genre ini, menganggap genre ini adalah picisan.  Padahal membaca romance  itu banyak manfaatnya juga seperti yang pernah diposting sebelumnya di blog ini.

Thad sendiri bukan orang yang jaim. Ketika dia menyukai Elizabeth, dia juga menyayangi kedua anaknya. Bagi Thad, Megan dan Matt itu satu paket dengan Elizabeth. Dia sendiri tidak memaksa Elizabeth ketika Elizabeth menutup diri, melainkan memberi ruang dan waktu bagi Elizabeth untuk memilih keputusannya sendiri.

Ohya, novel ini sudah ada terjemahannya yang diterbitkan oleh GPU. Silahkan dicari, dibaca dan diambil hikmahnya ya :)

Wednesday, March 5, 2014

Bedroom Therapy by Rebecca York


Judul : Bedroom Therapy
Penulis : Rebecca York
Halaman : 256 (ebook)
Penerbit : Harlequin Blaze

Amanda O'Neal memulai karier barunya sebagai "sexual advice columnist" di majalah Vanessa (sebuah majalah wanita) berbekalkan latar belakang pendidikannya sebagai seorang doktor di bidang human sexuality. Sebenarnya dia melakukan pekerjaan ini atas permintaan sahabatnya yang menajdi editor di sana. Kolumnis sebelumnya yang bernama Ester Knight meninggal akibat sebuah kecelakaan. Karena rating kolom tersebut cukup tinggi, maka Amanda diminta menggantikan penulis sebelumnya dengan menggunakan pseudonym Esther Scott.

Zachary Grant adalah seorang detektif swasta yang diminta oleh keluarga Esther Knight untuk menyelidiki kematian Esther. Keluarganya merasa ada yang tidak wajar dari sekedar kecelakaan. Berhubung Amanda sendiri pernah menjadi kolega Esther, dan sekarang menggantikan Esther di majalah Vanessa, Zach merasa perlu mewawancarai Amanda. Ternyata benar, ada yang tidak wajar dengan kecelakaan Esther. Suatu malam, rumah Amanda dimasuki orang yang tidak dikenal. Merasa bertanggung jawab atas keamanan Amanda, Zach meminta Amanda pindah rumah. Di rumah yang baru, Zach tinggal bersama Amanda hingga dia menemukan siapa pelaku pembunuhan terhadap Esther.

Kalau lihat judul dan covernya, gak mungkin dong kisahnya hanya soal pembunuhan saja. Yang menarik adalah pekerjaan dari Amanda sendiri. Sebagai seorang kolumnis yang mengasuh rubrik seksual, dia mendapatkan banyak sekali surat seputar masalah seksual yang dialami baik wanita maupun pria. Di novel ini ditunjukkan sebagian suratnya. Misalnya kayak begini

Dear Esther,I have a new boyfriend. He's a lot more into foreplay than the last guy I went with. Anyway, last night we were fooling around. He started stimulating my breasts, and all of a sudden, I had an orgasm. I mean, all he was doing was kissing me and playing with my nipples and I went off like a firecracker. Is that normal? (Embarrassed in Ohio)
atau surat seperti ini...

Dear Esther,My boyfriend and I keep having the same argument about what we do when we're making love. He wants me to do oral sex on him. But he hates doing it to me. So I feel like I'm getting—um—the short end of the stick.

Terkadang Amanda merasa hot sendiri membaca surat-surat itu. Nah pada saat pertama kali Zach datang menemui Amanda, Amanda lagi horny habis baca beberapa surat. Dia udah siap-siap dengan vibratornya, tiba-tiba ada yang ngetuk pintu rumahnya. Begitu lihat penampilan Zach, dia tambah horny deh. Zach sendiri sempat membaca sebagian surat pembaca karena ada di meja kerjanya Amanda, dan dia mulai merasa "gerah" apalagi Amanda sendiri sangat menarik di matanya. Zach penasaran, apakah pengalaman Amanda sebaik pengetahuan akademisnya.

Ketika mereka tinggal serumah, Zach mulai melakukan pendekatan pada Amanda. Diawali dengan phone-sex (padahal mereka seatap) sampai skenario self-pleasuring yang dirancang oleh Zach. Amanda yang ga puas hanya dengan self-pleasuring pun meminta Zach untuk melakukannya untuknya. Zach yang awalnya keberatan, akhirnya tidak bisa menolak. Anehnya, Amanda udah dapat "big O" beberapa kali, Zach masih juga "tegak" dan belum mencapai "that O". Ternyata Zach memiliki masalah akibat trauma masa lalu. Dia bisa mendapatkan kepuasan jika melakukannya sendiri, tapi begitu berhadapan dengan wanita, dia tidak bisa. Amanda ingin sekali membantu Zach, tapi yang ada Zach malah menutup diri.

Well, apakah sang doktor mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapai oleh pria yang dicintainya? :) Kombinasi antara suspense dan romance ini layak mendapat 3 kipas.